RADAR JOGJA – Sudah 10 hari di pengungsian, para pengungsi mulai dilanda rasa bosan. Meski selama di pengungsian semua kebutuhan dicukupi, Mulai dari jasmani dan rohani.

Namun, Selasa (17/11) situasinya agak berbeda. Para pengungsi yang beragama Islam mendapatkan siraman rohani berupa pengajian yang diadakan oleh Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Kementerian Agama DIJ.
Para pengungsi yang mengikuti pengajian itu tampak sumringah. Selain mendengarkan ceramah dengan sekesama, mereka juga terlihat sangat bersemangat ketika diajak bersholawat bersama oleh penceramah. Dalam pengajian itu, Mujiharno yang bertindak sebagai penceramah mengajak seluruh pengungsi yang hadir untuk bersabar. Tak lupa ia juga mengajak para pengungsi untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Kesehatan dan keimanan tetap dijaga,” ajaknya.

Selain itu, Mujiharno juga berdoa agar bencana erupsi Gunung Merapi tahun ini bisa segera terlewati. Sehingga masyarakat bisa kembali melakukan aktivitas seperti biasa. “Semoga nanti ada hikmah yang bisa kita dapatkan,” harapnya.
Siraman rohani seperti ini rencananya akan terus dilakukan oleh Kementerian Agama DIJ. Paling tidak setiap sepekan sekali diadakan di barak pengungsian Kalurahan Glagaharjo.

Sumarjo, salah seorang pengungsi mengaku senang bisa mengikuti pengajian tersebut. Menurut dia, itu bisa jadi pengisi kekosongan kegiatan di barak pengungsian. “Pengajian seperti ini ngademke ati,” ujarnya.

Ya, sekitar 200-an warga Padukuhan Kalitengah Lor sudah mengungsi sejak 7 November lalu. Mereka yang mayoritas terdiri dari lansia dan anak-anak ini menempati barak pengungsian yang disiapkan di bagian belakang Kantor Kalurahan Glagaharjo.

Lebih dari sepekan berada di barak pengungsian, Ada pula yang mengeluh badannya pegal-pegal lantaran tidak melakukan banyak aktivitas. Tapi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman memastikan kebutuhan obat-obatan dan logistik makanan mencukupi.

Bahkan makanan, dan ketersediaan tempat tidur menjadi hal yang mendesak di barak pengungsian. Pun demikian dengan ketersediaan obat-obatan. Tak lupa, karena situasi pandemi Covid-19, kebutuhan akan masker juga dinilai mendesak Beragam logistik penting itu sudah tersedia di barak pengungsian erupsi Gunung Merapi yang terletak di belakang kantor Kalurahan Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. “Alhamdullilah, logistik datang terus, baru saja tadi juga datang bantuan masker dengan jumlah yang besar,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman Joko Supriyanto kepada Radar Jogja Selasa (17/11).

Situasi pandemi Covid-19 membuat para pengungsi maupun relawan yang ada di barak pengungsian wajib mengenakan masker. Untuk itu, Joko menyatakan pihaknya sudah memberikan jatah empat masker kain tiga lapis untuk setiap pengungsi.

Terpisah, Budi Santoso dari Taruna Tanggap Bencana (Tagana), yang bertanggung jawab di dapur umum barak pengungsian mengungkapkan, pihaknya harus menyediakan paling tidak 250 bungkus nasi setiap kali memasak. Dalam sehari, para relawan itu memasak sebanyak tiga kali. Untuk memenuhi kebutuhan sarapan, makan siang, dan makan malam.

Menu yang disiapkan pun bervariasi setiap harinya. Tidak monoton dan mengikuti selera para pengungsi. “Pesan Ngarso Dalem memang begitu, siapkan makanan yang sesuai selera orang sini, jadi kami banyak memasak sayuran khas daerah Cangkringan sini juga,” jelasnya. (kur/pra)

Sleman