RADAR JOGJA – Juru Kunci Gunung Merapi Mas Wedana Surakso Hargo meminta warga tak berandai-andai terkait kondisi Gunung Merapi. Menurutnya membaca pertanda alam tak selamanya harus bernuansa klenik. Pertanda alam juga bisa dilihat dari kondisi alamiah di sekitar lingkungan Gunung Merapi.

Acuan utamanya adalah informasi yang diterbitkan oleh BPPTKG Jogjakarta. Termasuk anjuran jarak aman dan ativitas harian. Kajian ilmiah ini juga dapat menjadi salah satu parameter perkembangan Gunung Merapi.

“Seperti kemarin ada meteor melintas diatas Gunung Merapi. Menurut saya itu tidak ada kaitannya,” jelasnya ditemui di kediamannya di Huntap Karang Kendal Pelemsari Umbulharjo Cangkringan, Selasa (17/11).

Terkait pertanda alam, ada yang bisa diamati. Seperti munculnya guguran dari arah puncak Gunung Merapi. Ada pula perilaku hewan menjelang erupsi misalnya turunnya hewan ke pemukiman warga.

Walau begitu, Mas Asih, sapaannya, meminta tak semua hewan turun dikaitkan dengan erupsi Merapi. Seperti turunnya kera ekor panjang. Primata ini diketahui kerap memasuki pemukiman warga.

“Memang ada hewan yang turun ke kampung, tapi itu kaitannya dengan Merapi atau tidak, saya kurnag tahu. Bisa saja tidak ada makanan lalu turun ke kampung. Bisa juga karena suhu naik,” katanya.

Dalam kesempatan ini Mas Asih turut menjawab fenomena suara gemuruh. Kondisi ini tergolong wajar bagi sebuah gunung berapi. Suara akan terdengar jika jarak dengan pemukiman warga tergolong dekat.

“Magelang ada suara kemrongsong atau gemuruh tetapi kalau didengarkan dari posisi selatan tidak kedengaran. Memang dari Tlogolele Kampung Stabelan jelas sekali suaranya, karena jaraknya hanya 2,5 kilometer dari puncak Merapi,” ujarnya.

Anak dari almarhum Mbah Maridjan ini mengajak warga menyelami harmoni dengan alam. Semangat inilah yang telah diwariskan para warga lereng Merapi. Bahkan telah ada sejak turun temurun.

Semangat ini mengajarkan hidup berdampingan dengan Merapi. Termasuk memahami karakter gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jogjakarta. Harapannya, agar tak selalu panik atas perkembangan aktivitas kegunungapian Gunung Merapi.

“Artinya kita hidup di lereng Merapi sudah sejak lahir, kalau Merapi bergejola atau erupsi lebih baik menjauh. Tapi kalau Merapi baik, tenang maka tetap ativitas. Karena sudah terbiasa cari hidup di hutan atau lereng Merapi,” katanya.

Sebagai anak Merapi, Mas Asih juga mengajak untuk menjaga kelestarian alam. Apabila dalam status normal, turut menjaga kebersihan di wilayah puncak. Seperti memunguti sampah di jalur pendakian. 

“Alam tanpa manusia masih bisa hidup, tapi manusia juga wajib merawat alam. Hidup harmoni dengan alam itu sangatlah penting. Termasuk dengan Gunung Merapi,” pesannya. (dwi/tif)

Sleman