RADAR JOGJA – Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo memastikan bilik karantina Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) telah siap. Lokasinya berada di ruangan kelas SD Muhammadiyah Cepitsari Glagaharjo. Tepatnya sebelah barat balai desa Glagaharjo.

Keberadaan bilik karantina ini sebagai wujud antisipasi penyebaran Covid-19 yang berasal dari warga luar pengungsian. Sasarannya adalah keluarga pengungsi, relawan maupun pengungsi yang memiliki indikasi Covid-19.

“Tidak ada laporan Covid-19 hingga saat ini di barak Glagaharjo. Kemarin memang sempat ada relawan yang reaktif. Tapi setelah swab ternyata aman dari Covid-19,” jelasnya, ditemui di Barak Pengungsian Glagaharjo, Senin (16/11).

Joko berharap keluarga pengungsi yang berasal dari luar daerah tak memaksakan diri. Demi kebaikan bersama tidak menjenguk pengungsi di barak. Karantina berlaku apabila ada pengungsi atau keluarga pengungsi yang reaktif.

“Misal sudah ngungsi disini, lalu pergi keluar apalagi dari zona merah, maka karantina dulu. Kalau positif dirujuk ke asrama haji,” katanya.

Mekanisme karantina sama seperti tindakan medis pada umumnya. Pasien dilarang melakukan kontak komunikasi fisik dengan orang lain. Setidaknya hingga hasil uji medis terhadap Covid-19 negatif.

“Karantina dia tidak boleh kontak dengan orang lain. Selama menjalani karantina ada tindakan medis. Termasuk meningkatkan imunitas dan kesehatan untuk mencegah penularan penyakit,” katanya.

Terkait kondisi kesehatan, pengungsi di barak Glagaharjo Cangkringan dalam kondisis sehat. Walau begitu dia tak menampik adanya keluhan. Mulai dari pegel linu, perut kembung, pusing hingga hipertensi.
Berdasarkan data ada sekitar 123 pengungsi mengeluhkan sakit yang sama. Didominasi oleh pengungsi lanjut usia. Hanya saja keluhan ini tak berlanjut hingga rujukan ke rumah sakit.

“Sejak pengungsian tanggal 7 November hingga sekarang ada 123 keluhan atau pengungsi. Tapi tidak ada yang sampai rujuk puskemas apalagi rumah sakit,” ujarnya.

Keluhan juga ditemukan pada pengungsi usia anak-anak. Mayoritas adalah gatal pada kulit. Penanganan langsung dilakukan oleh pos kesehatan barak pengungsian. Sama halnya pengungsi lansia, tidak ada anak-anak yang dirujuk hingga puskesmas atau rumah sakit.

“Untuk stok obat masih memadai, tidak sampai mengusulkan pengadaan pakai dana tak terduga. Masih gunakan obat reguler,” katanya. (dwi/tif)

Sleman