RADAR JOGJA – Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIJ menyiapkan sejumlah antisipasi dampak apabila erupsi Merapi mengarah ke Jogjakarta, terlebih ke kawasan Candi Prambanan. Pihaknya telah mengerahkan alat dan tenaga khusus untuk pembersihan.

“Kami siap melakukan konservasi mekanik baik kering maupun basah atas kemungkinan dampak erupsi Merapi. Kami data kembali alat mana yang bisa digunakan dan yang sudah rusak,” ungkap Kepala BPCB DIJ Zaimul Azzah kepada Radar Jogja Minggu (15/11).

Pembersihan dilakukan oleh tenaga khusus bidang pemeliharaan. Ada puluhan tenaga khusus di seluruh DIJ. Semua akan dikerahkan apabila akivitas Merapi menunjukkan peningkatan dan mengarah ke Timur. Sementara alat yang disiapkan berdasarkan kebutuhan tenaga teknis, yakni alat pemanjat candi, termasuk alat penyedot debu.

Menurutnya, tidak ada persiapan khusus yang dilakukan BPCB menyikapi kemungkinan erupsi kali ini. Semua masih mengacu pengalaman-pengalaman sebelumnya. Pada erupsi Merapi 2010 dan abu vulkanik kiriman dari Gunung Kelud pada 2014 silam, pembersihan juga masih dilakukan secara manual.
Berbeda dengan perlakuan di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang. Candi Prambanan tidak dibungkus dengan terpal. Sebab, arsitektur dengan struktur candi yang meruncing sulit untuk dikondisikan. “Jika diberi tudung, dikhawatirkan arsitektur akan rusak. Bentuk candinya tidak bisa disamakan dengan Candi Borobudur yang landai,” terangnya.

Pihaknya mengaku hingga kini belum menemukan cara khusus untuk melindungi struktur candi dari abu vulkanik. Meski candi ini dibangun dengan batu andesit yang bersifat keras. Namun jika terkena abu vulkanik, lambat laun akan berpengaruh pada poros batu, sebagaimana ciri batu andesit yang memiliki pori besar. “Abu vulkanik memiliki butiran layaknya pecahan serpihan kaca. Dalam jangka waktu lama, dapat merusak candi,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, sejauh ini candi masih aman karena berada di radius 27 kilometer dari puncak Merapi. Jika erupsi mengarah ke barat, kemungkinan terdampak kecil. Kendati begitu pembersihan dan pemeliharaan candi intens dilakukan tiga kali dalam setahun. Meliputi pembersihan rumput-rumput di sela candi, pembersihan dari jamur, dan pemasangan nat candi. “Saat ini ada pemasangan nat pada dinding Candi Wisnu. Untuk mencegah perenggangan struktur batu,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIJ mencatat aktivitas Merapi telah mengalami peningkatan sehingga statusnya dinaikkan dari waspada menjadi siaga per 5 November lalu. Berdasarkan prediksi, skenario erupsi mengarah ke barat. Kepala BPPTKG DIJ Hanik Humaida memprediksi, erupsi Merapi tidak seperti erupsi pada 2010, namun dimungkinkan seperti erupsi 2006. (mel/laz)

Sleman