RADAR JOGJA – Sekretaris Umum BKKBN Pusat Tavip Agus Rayanto berharap generasi muda memegang peranan penting menyikapi bonus demografi yang merupakan aset penting bagi negara. Di satu sisi juga menjadi tantangan tersendiri bagi setiap individu maupun pemerintah.

Pemuda, lanjutnya, merupakan salah satu aset generasi masa depan. Permasalahan timbul karena tantangan semakin besar. Tiga besar yang utama adalah pernikahan dini, seks sebelum menikah dan penyalahgunaan narkotika.

“Remaja itu merupakan aset penting dalam pembangunan bangsa. Tak dipungkiri pula permasalahan di era saat ini juga besar. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, khususnya para remaja itu sendiri,” jelasnya usai sosialisasi Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR) di balai desa Argomulyo Cangkringan, Senin (16/11).

Berkembangnya teknologi informasi ibarat dua sisi mata uang. Apabila dikelola dengan baik dapat menjadi sumber edukasi. Tapi juga dapat berdampak negatif apabila disalahgunakan.

Di sinilah peran remaja sebagai subjek maupun objek untuk memilah. Bukan terbawa arus oleh informasi digital, namun bisa mengendalikan secara bijak demi kebaikan personal.

“Nah, remaja tentu tidak asing dalam perkembangan teknologi. Mereka sudah bisa mengakses. Ini harus diarahkan dan dimanfaatkan sebagai wujud edukasi. Agar teknologi internet bisa menjadi sarana edukasi yang optimal,” katanya.

Dia mencontohkan edukasi tentang pendidikan seks. Pada era saat ini, edukasi tentang seks bukanlah hal yang tabu. Pola pikir lawas justru dapat membuat remaja kehilangan arah. Alhasil mengobati rasa penasaran dengan cara yang tidak tepat.

“Pendidikan seksual bukan lagi menjadi hal yang tabu. Apabila tidak ada pengarahan justru bisa menyimpang. Ditambah arus informasi diluar semakin kencang dan liar. Ini yang harus diantisipasi dalam wujud edukasi,” pesannya.

Kepala Perwakilan BKKBN DIJ Ukik Kusuma Kurniawan mengakui tiga kendala utama juga terjadi di Jogjakarta. Dalam catatan terbaru, jumlah pemohon dispenasi pernikahan meningkat. Terlebih di masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Langkah antisipasi telah dilakukan oleh BKKBN. Berupa edukasi dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi. Termasuk didalamnya pendewasaan usia perkawinan. Batas usia ideal melaksanakan pernikahan yaitu minimal 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki.

“Pendekatan yang kami lakukan adalah edukasi kepada remaja dan komunitas bremaha. Untuk saat ini sudah bergerak ke sejumlah komunitas di kabupaten dan kota di Jogjakarta. Akan terus bergerak karena edukasi ini juga sangatlah penting,” katanya. (dwi/tif)

Sleman