RADAR JOGJA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) DIJ belum menetapkan skema pemilu di lingkungan barak pengungsian Merapi. Ini karena kondisi barak pengungsian masih bisa berubah sewaktu-waktu, serta mobilisasi para pengungsi keluar dari lokasi barak pengungsian.

Penyusunan skema mengandalkan data bergerak dari Kapanewon Cangkringan dan BPBD Sleman. Khususnya terkait perkembangan kondisi erupsi Merapi. Apabila terjadi perubahan status, maka turut berdampak pada radius tempat pemungutan suara (TPS) yang aman.

“Kami juga memetakan potensi bahayanya seperti apa. Kalau dalam status siaga, radiusnya 5 kilometer, ini ada 1 TPS yaitu TPS 8. Kalau meningkat radius 9 kilometer, kami antisipasi lagi,” jelas Divisi Teknis KPU DIJ Muhammad Yainur Ikhsan, Minggu (15/11).

Ikhsan menuturkan TPS 8 menjadi satu-satunya TPS di wilayah Kalitengah Lor yang memiliki radius 5 kilometer dari puncak Merapi. Dalam radius ini tercatat ada 404 daftar pemilih tetap (DPT).

“Dari 404 DPT yang ikut mengungsi sekitar 100 lebih. Posisinya sudah di barak pengungsian Glagaharjo,” katanya.

Ikhsan tak menampik perubahan data bisa terjadi sewaktu-waktu. Terlebih para pengungsi memang dapat berpindah. Khususnya ke tempat yang lebih aman atau ke kediaman keluarga.

Dampak dari mobilisasi ini adalah perbaruan data. Menyasar lokasi perpindahan para warga Kalitengah Lor. Tujuannya untuk menentukan lokasi TPS bagi warga pengungsi.

“Skema memang belum ketemu. Apakah TPS dibackup TPS terdekat. Intinya apakah TPS ikut direlokasi atau menggunakan TPS lama di atas (Kalitengah Lor). Keputusan seperti ini butuh data dulu,” ujarnya. (dwi/tif)

Sleman