RADAR JOGJA – Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Jogjakarta tak hanya fokus pada kegiatan wisata. Setiap personelnya juga dibekali dengan kemampuan mitigasi bencana. Khususnya mengevakuasi warga yang berada dalam radius bahaya erupsi Gunung Merapi.

Peran ini melibatkan 29 komunitas anggota AJWLM. Setiap komunitas mengirimkan perwakilan masing-masing. Kemudian melakukan piket rutin sebagai langkah antisipasi erupsi Merapi.

“Antisipasi, pasti suatu saat akan ada bencana Merapi. Semuanya harus ikut andil bagian sebagai relawan. Bantu evakuasi warga yang berada dalam titik radius bahaya,” jelas Ketua AJWLM Jogjakarta sisi barat Dardiri ditemui di kediamannya, Jumat (13/11).

Keterlibatan pengemudi dan pemandu AJWLM memiliki alasan yang kuat. Salah satunya adalah wawasan atas daerah rawan di lereng Merapi sisi selatan. Selain itu juga paham rute dan peta di kawasan Pakem dan Cangkringan.

Dardiri meyakini peran AJWLM cukup membantu. Terlebih mayoritas para pengemudi dan pengembang adalah warga asli Kecamatan Pakem dan Kecamatan Cangkringan. Sehingga memahami rute aman evakuasi.

“Ikut ambil bagian, karena paham rute jalannya di lereng Merapi. Lalu bisa bergerak cepat di daerah yang rawan dan butuh evakuasi cepat,” katanya.

Terbentuknya AJWLM sendiri tak terlepas dari erupsi Merapi 2010. Kala itu awalnya bertujuan melayani paket ECO Wisata. Mengenalkan beragam potensi kekayaan alam dan kearifan lokal di lereng Merapi sisi selatan.

Tak sendiri, diawal terbentuk, AJWLM turut melibatkan Yogyakarta American Jeep. Memanfaatkan kendaraan dengan penggerak empat roda untuk menjelajahi kawasan lereng Merapi. Khususnya potensi salak pondoh hingga susu kamping peranakan etawa.

“Awalnya 2009 sudah terbentuk dan berproses. Tiba-tiba erupsi 2010 dan akhirnya beralih menjadi relawan. Kami sekarang siap, tapi semoga keadaan (erupsi) tetap aman terkendali,” katanya.

Sepuluh tahun berjalan, AJWLM kini beranggotakan kurang lebih 1.000 armada. Rute wisata yang dilayani terbagi dalam dua wilayah. Tepatnya kawasan wisata di Kecamatan Pakem dan Kecamatan Cangkringan.

Pasca kenaikan status Merapi, rute wisata berubah. Beberapa zona wisata yang beradius 5 kilometer dari puncak Merapi tak dikunjungi. Seperti bungker Kaliadem hingga petilasan Mbah Maridjan. Jumlah armada yang operasional juga berkurang 50 persen.

“Perubahan rute, karena 5 kilometer dari puncak Merapi harus klir. Kalau armada, sejak Covid juga sudah berkurang 50 persen. Saat ini yang operasional aktif sekitar 450 sampai 500 armada,” ujarnya. (dwi/ila)

Sleman