RADAR JOGJA – Meski aktivitas Gunung Merapi terus meningkat sehingga statusnya dinaikkan dari waspada menjadi siaga sejak Kamis (5/11), hingga kemarin magma belum terlihat ke permukaan. Hal ini disebabkan magma yang ada miskin gas, sehingga magma belum terangkat ke atas.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida menjelaskan, saat ini volume kubah lava Merapi sudah melebihi volume kubah lava erupsi Merapi 2006 lalu. Diakui sejak 5 November, aktivitas Merapi terus mengalami peningkatan.

Meskipun demikian, laju deformasi Merapi tidak asimtotik atau tidak mengalami percepatan harian. “Jadi lajunya pelan-pelan. Dari ditetapkan siaga hingga saat ini deformasi masih 10 sentimeter. Berbeda dengan 2010 yang setiap hari bisa mengalami peningkatan signifikan,” kata Hanik di barak pengungsian Banjarsari, Selasa (10/11).

Perkembangan yang tergolong pelan itu, lanjut Hanik, dikarenakan faktor miskin gas. Jika laju deformasi tidak mengalami pengingkatan, seandainya ada eksplosif, dapat dipastikan tidak sebesar erupsi tahun 2010 yang meluluhlantakkan lereng Merapi dan menimbulkan banyak korban jiwa itu.
Untuk ancaman bahaya, Hanik mengaku potensi utama ada di wilayah Kali Gendol. Mengingat permukaan kawah mengarah ke sungai yang mengalir di wilayah Cangkringan itu. Hanya saja, tidak menutup kemungkinan karena adanya deformasi yang mengarah ke barat, membuat wilayah barat juga berpotensi memiliki ancaman bahaya.

Jika kubah lava sudah terlihat di permuakaan, lanjut Hanik, pihaknya baru bisa menghitung terkait kecepatan dan besaran erupsi yang akan terjadi. “Akan kami perbaharui data rekomendasi terkait hitungan kecepatan, volume, dan potensi bahayanya,” kata Hanik.

Sementara itu, Bupati Sleman Sri Purnomo menjelaskan saat ini pihaknya tidak hanya mempersiapkan barak pengungsian untuk masyarakat Kalitengah Lor. Adanya potensi bencana di wilayah barat Sleman karena laju deformasi, barak di Pakem dan Turi juga dipersiapkan. “Meskipun fokusnya di Cangkringan, Pakem dan Turi juga kami siapkan kalau ada skenario baru,” katanya.

Masyarakat di wilayah barat, diminta untuk tetap siaga. Tetap berada di rumah, sembari menunggu instruksi dari pemerintah. “Jangan mendahului apa yang menjadi keputusan pemerintah. Namun masyarakat harus siaga,” pinta Sri Purnomo.

Antisipasi Ternak Stres, Terjunkan Dokter Hewan

Mengantisipasi agar ternak tidak stres usai dievakuasi, Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan (DP3) Sleman menerjunkan dokter hewan untuk memberikan healing. Selain itu, obat anti stres dan multivitanin turut diberikan kepada hewan ternak.

Kepala DP3 Sleman Heru Saptono menjelaskan, sudah ada petugas dari Poskeswan Cangkringan dan relawan dari Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) untuk turut merawat ternak yang telah dievakuasi. Mengingat setelah dipindahkan, ternak menjadi rentan stres.

Antisipasi lainnya dengan menyediakan obat-obatan untuk penyakit-penyakit sapi. Khususnya untuk penyakit yang muncul saat musim penghujan. “Saat ini juga masih menunggu obat-obatan dari Kementerian Pertanian, Ditjen Peternakan,” ungkap Heru Selasa (10/11).

Dari evakuasi yang dilakukan Senin (9/11), total ada 55 ternak sapi yang sudah menempati kandang komunal Singlar. Yakni 36 ekor sapi perah dan 19 lainnya sapi potong. Untuk sisa ternak sapi yang belum dievakuasi, Heru mengaku akan membuat kandang di timur barak pengungsian Banjarsati.

Nantinya akan ada 20 unit kandang dibangun untuk bisa menampung 200 ekor sapi potong. “Kalau di kandang komunal bisa menampung 120 sapi. Total sapi di Kalitengah Lor 294 sapi,” lanjut Heru.

Ia mengaku saat ini sudah mengajukan rencana anggaran biaya (RAB) ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Jika nanti disetujui maka pembangunan akan berjalan selama 10 hari. Dengan kondisi Merapi yang masih siaga dan tergolong landai, Heru yakin proses evakuasi akan selesai sebelum status kembali meningkat.

Untuk kelengkapan kandang nantinya akan memprioritaskan ketersediaan air kebutuhan ternak. Jika nantinya ketersediaan air tidak bisa dicukupi dengan sumber air yang digunakan masyarakat, pihaknya akan mengajukan droping air. “Dan jika tidak mencukupi, droping akan dilakukan setiap hari. Sekitar 5.000 liter per hari,” katanya.

Sementara itu, Plt Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan DP3 Sleman Nawangwulan mengaku, sebelumnya evakuasi diprioritaskan untuk sapi perah. Hanya saja masih ada pemilik yang enggan menurunkan ternaknya untuk dievakuasi. Oleh karena itu, pihaknya masih akan terus menyisir pemukiman warga di sejumlah titik untuk mengedukasi pentingnya upaya evakuasi ternak.
Sedangkan untuk evakuasi ternak selanjutnya, Nawang masih belum bisa memastikan waktunya. “Evakuasi belum bisa semua, karena proses edukasi. Karena ada masyarakat yang ternaknya belum mau diturunkan,” kata Nawang. (eno/laz)

Sleman