RADAR JOGJA – Bupati Sleman memastikan mitigasi Merapi tak hanya terfokus di kawasan Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan. Jajarannya juga terus melakukan mitigasi dan manajemen bencana di sisi barat, khususnya Kecamatan Turi dan Pakem. Diketahui bahwa potensi erupsi tak hanya mengarah ke tenggara tapi juga barat.

Pihaknya terus berkomunikasi dengan jajaran BPPTKG Jogjakarta untuk mendata informasi terkini tentang Gunung Merapi. Mulai dari aktivitas harian hingga munculnya guguran hingga beragam gempa vulkanik.

“Meskipun fokusnya di Cangkringan, namun Pakem maupun Turi juga kami siapkan kalau ada skenario baru. Warga di wilayah barat juga diminta siaga. Artinya mereka harus stand by di rumah dan menunggu instruksi dari pemerintah,” jelasnya ditemui usai meninjau barak pengungsian Glagaharjo Cangkringan Sleman, Selasa (10/11).

SP, sapaannya, meminta masyarakat tidak panik. Namun juga mengimbau agar senantiasa waspada. Terlebih potensi ancaman erupsi Gunung Merapi bisa terjadi sewaktu-waktu.

Penyiagaan barak pengungsian oleh Pemda Sleman telah final. Untuk kawasan barat, SP memastikan seluruh barak telah siap. Baik barak di Kecamatan Turi maupun Kecamatan Pakem.

“Jangan mendahului apa yang menjadi keputusan pemerintah. Namun warga posisinya juga harus siaga. Di lereng Merapi, baraknya sudah dipersiapkan semua,” katanya.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Joko Supriyanto menjamin kapasitas barak mencukupi. Ini karena titik pengungsian tak hanya di satu lokasi. Selain barak pengungsian, para pengungsi juga bisa menginap di rumah keluarga.

Untuk menampung warga Kalitengah Lor tak hanya terfokus di Balai Desa Glagaharjo. Adapula barak pengungsian di Gayam Argomulyo. Lokasi ini berada lebih bawah dibanding barak pengungsian Glagaharjo. 

Sama seperti Glagaharjo, barak Gayam juga telah disekat.  Tindakan ini sebagai wujud protokol kesehatan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Daya tampung barak ini mencapai 150 orang. 

“Kalau kurang masih ada pendopo balaidesa. Lalu 10 ruangan di SD Muhammadiyah Cepitsari. Masih ditambah konsep sister family, dengan menginap di rumah keluarga,” ujarnya.

Pihaknya juga telah mengungsikan ternak milik warga Kalitengah Lor. Terdiri dari sapi jenis perah dan potong. Proses evakuasi sapi ternak berlangsung bertahap. Diawali dengan sapi perah. Seluruhnya telah ditempatkan di kandang komunal Singlar.

Joko mengakui proses evakuasi hewan ternak tidaklah mudah. Ini karena beberapa warga memilih untuk bertahan. Dengan alasan masih bisa menjaga secara mandiri di kediamannya masing-masing.

“Kalau waton mindah, nanti yang awalnya produktif malah jadi tidak produktif. Untuk sapi potong nanti kau tempatkan di sisi timur barak Glagaharjo. Saat ini sudah ada rancangan untuk nantinya mengajukan anggaran oleh Dinas pertanian ke BPBD,” katanya. (dwi/tif)

Sleman