RADAR JOGJA – Dinas Kesehatan Sleman melakukan uji rapid diagnostic test (RDT) kepada sejumlah relawan dan personel yang berjaga di barak pengungsian Glagaharjo. Langkah ini guna mengantisipasi sebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di barak pengungsian.

Target dari uji medis ini adalah 60 sampel darah. Difokuskan kepada relawan dan personel yang bermobilitas tinggi di lingkungan barak pengungsian. Terutama para relawan yang berasal dari luar Kalurahan Glagaharjo.

“Target memang relawan, karena mereka ini dari luar daerah Cangkringan. Harapannya saat para relawan datang membantu atau bertugas itu tidak membawa virus Corona, sehingga tidak menulari para pengungsi,” jelas Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sleman Novita Krisnaeni ditemui di Bangsa Pengungsian Glagaharjo, Senin (9/11).

Apabila hasil reaktif, relawan wajib menjalani uji swab PCR. Sambil menunggu hasil uji swab, para relawan harus isolasi diri. Setidaknya hingga hasil dari uji medis telah menunjukkan hasil.
Kebijakan ini ditempuh atas pertimbangan matang. Terlebih kawasan Glagaharjo adalah zona hijau. Artinya sebaran kasus Covid-19 di wilayah ini relatif rendah.

“Begitu reaktif langsung isolasi mandiri. Target 60, yang di sini saja. Sementara 44 diantaranya non reaktif,” katanya.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Joko Supriyanto menegaskan uji RDT wajib. Relawan yang akan bertugas di barak pengungsian Balai Desa Glagaharjo harus dinyatakan sehat. Terutama bebas dari Covid-19.

Disatu sisi, Joko juga memastikan tak ada uji RDT kepada pengungsi. Alasannya wilayah tinggal para pengungsi termasuk zona hijau. Sehingga dianggap tidak memerlukan rapid.

“Kalau sudah non reaktif, relawan kami tampung di posko Pakem. Relawan tidak bisa langsung datang ke Glagaharjo. Datang mendaftar di posko Pakem lalu kami identifikasi keahliannya apa. Kalau belum dibutuhkan ya standby di sana (posko pakem),” ujarnya. (dwi/tif)

Sleman