RADAR JOGJA – Jumlah pengungsi di barak Glagaharjo terus bertambah. Data terbaru menyebutkan total pengungsi di barak pengungsian ini mencapai 185 orang. Tak hanya diisi oleh kelompok rentan tapi juga pengungsi usia produktif.
Panewu (Camat) Cangkringan Suparmono menuturkan, pengungsi terdiri dari beragam usia. Detilnya pengungsi berusia kurang dari 2 tahun sejumlah 21 anak. Usia kisaran 3 hingga 5 tahun mencapai 8 anak. Rentang usia 6 hingga 18 tahun mencapai 23 orang.

“Untuk yang usia dewasa atau lebih dari 18 tahun ada 52 orang. Lalu yang lansia mencapai 82 orang. Untuk yang dewasa itu sudah termasuk 1 ibu hamil dan 12 difabel,” jelasnya ditemui di barak pengungsian Glagaharjo Cangkringan, Senin (9/11).

Suparmono tak mempermasalahkan kedatangan pengungsi usia dewasa. Dia meminta petugas penjaga barak tetap menerima para pengungsi. Terlebih para warga Kalitengah Lor memang memiliki trauma tersendiri.

“Saya menduga usia dewasa yang mengungsi ini orang panik. Tidak masalah, kalamu mau mengungsi harus diterima. Kami paham menghilangkan trauma (erupsi Merapi) 2010 itu susah,” katanya.

Pemeriksaan kesehatan berlangsung setiap harinya. Dari hasil pemeriksaan, keluhan para pengungsi adalah batuk, keluhan persendian dan beser. Menurutnya kondisi ini masih tergolong wajar.

Penanganan kesehatan tak hanya seputar fisik. Pihaknya juga fokus pada trauma healing dan kesehatan jasmani. Tujuannya agar para pengungsi tak mengalami stres selama dalam pengungsian.

“Kesehatan dikawal terus, sejauh ini keluhan hanya batuk, sendi kalau lansia beser. Untuk mengurangi tingkat stres memang ada treatment khusus. Saya sempat ngobrol dengan beberapa simbah memang ada yang trauma,” ujarnya.

Upaya antisipasi sebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) juga berlangsung ketat. Berupa pembatasan dan pengawasan terhadap relawan yang masuk. Ini karena mayoritas relawan berasal dari luar Cangkringan.
Langkah preventif berupa uji rapid diagnostic test (RDT). Sasarannya adalah relawan dari luar Kapanewon Cangkringan. Uji kesehatan ini berlangsung di balai desa Glagaharjo.

“Kalau protokol kesehatan di barak sudah bagus, karena dasarnya desa Glagaharjo memang zona hijau Covid-19. Tapi untuk relawan dari luar diperketat,” tegasnya. (dwi/tif)

Sleman