RADAR JOGJA – Jumlah pengungsi di barak Glagaharjo bertambah menjadi 177. Pada awalnya hanya ada 133 pengungsi yang terdata hingga Sabtu sore (7/11). Penambahan terjadi pada malam harinya dan didominasi usia produktif.

Panewu (Camat) Cangkringan Suparmono menuturkan, pengungsi tambahan adalah usia dewasa. Awalnya tidak terhitung dalam data milik Satgas barak pengungsian Glagaharjo. Hingga akhirnya didapatkan data baru pada malam harinya.
“Jadi yang banyak meningkat usia dewasa. Awalnya tidak terhitung karena tidak termasuk. Mereka mengungsi karena merasa khawatir atas kondisi Merapi,” jelasnya ditemui usai meninjau barak pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, Minggu (8/11).

Suparmono tak mempermasalahkan turunnya para pengungsi. Justru tindakan ini tepat sebagai langkah antisipasi. Terutama para warga yang masih trauma atas erupsi Merapi 2010.
Terkait pilihan mengungsi, Suparmono tak bisa memastikan penyebab utama. Menurutnya mental setiap warga tentu berbeda-beda. Entah karena trauma erupsi Merapi, kondisi Merapi terkini hingga tetangga yang mula mengungsi.

“Kami tidak bisa menghalangi. Mereka ingin mengungsi ya silakan. Wajar, apalagi punya trauma (erupsi Merapi) 2010,” katanya.

Bertambahnya jumlah pengungsi berdampak pada kuota barak. Dari yang awalnya disiapkan 120 bilik telah penuh. Solusinya adalah memindahkan sebagian pengungsi ke SD Muhamadiyah Cepitsari. Lokasinya bersebelahan dengan balai desa Glagaharjo.

Tercatat setidaknya ada 16 warga yang mengungsi di bangunan sekolah. Tambahan pengungsi rentang usia 18 tahun hingga 35 tahun. Walau bukan kelompok rentan namun tetap diterima.
“Mereka usia produktif bukan kelompok rentan. Kalau sesuai SOP tidak harus mengungsi di level siaga. Baru turun kalau status meningkat di level awas,” ujarnya.

Terkait barak, Suparmono menjamin Kapanewon Cangkringan siap. Setidaknya setiap Kalurahan telah memiliki barak pengungsian. Daya tampung mencukupi untuk warga pengungsi.
“Kami sudah koordinasi, barak harus standby sewaktu-waktu. Ada warga panik dan tidak nyaman dan memilih untuk mengungsi harus diterima,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo memastikan adanya pengecekan kesehatan secara periodik. Hasil pemeriksaan sementara ada keluhan dari empat pengungsi lanjut usia. Mulai dari kembung hingga kelelahan.

Terkait ketersediaan stok masker, Joko juga menjamin aman. Hitungan yang digunakan adalah kapasitas kabupaten. Hitungannya adalah 5 persen dari jumlah penduduk. Tentu dibagi dengan penanganan Covid-19.
“Kalau masker masih cukup. Stok di kabupaten tinggal 160 ribuan. Pengadaan kami mengadakan paling tidak 150 ribu lagi,” ujarnya.

Pihaknya juga mengantisipasi sebaran Covid-19 di barak pengungsian. Terutama dari para relawan yang masuk. Diketahui bahwa barak pengungsian berpotensi mendatangkan relawan dari berbagai wilayah. Sementara riwayat kesehatan dan perjalanan tak sepenuhnya diketahui.
“Dinas Kesehatan siap untuk screening bagi orang yang mau ke sini. Maksudnya biar Glagaharjo tetap (zona) hijau. Jangan sampai ada bawaan dari luar dan menyebabkan yang sini terinfeksi. Tapi itu harus satu komando dari satlak BPBD, kalau diijinkan ya akan terjun,” katanya. (dwi/ila)

Sleman