RADAR JOGJA – Panewu Cangkringan Suparmono memastikan barak Glagaharjo siap menampung para pengungsi. Terletak di belakang Kantor Kalurahan Glagaharjo, gedung ini berkapasitas 400 orang. Hanya saja untuk menampung pengungsi, maksimal diisi sekitar 100an orang.

Suparmono menjabarkan ada tiga wilayah yang masuk zona bahaya. Tepatnya Kalitengah Lor di Kalurahan Glagaharjo, Kaliadem lama di Kalurahan Kepuharjo dan Pelemsari di Kalurahan Umbulharjo. Ketiga wilayah tersebut berjarak kurang dari 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

“Warga yang jumlahnya paling banyak ada di Kalitengah Lor ada sekitar 130 warga kelompok rentan. Pelemsari di Umbulharjo itu juga ada tapi hanya 2 atau 3, itupun sudah diminta turun,” jelasnya, ditemui di jalur evakuasi Suruh-Singlar, Jumat (6/11)

Itulah mengapa pihaknya menyiapkan secara matang barak pengungsian. Lokasi barak berada di belakang Kantor Kalurahan Glagaharjo. Terdiri dari dua gedung dan tanah lapang.

Beragam fasilitas telah terpasang di barak tersebut. Mulai dari lampu penerangan, alat memasak hingga fasilitas internet. Hanya saja belum terpasang sekat-sekat bagi pengungsi di dalam gedung.

“Selain warga kami juga berpikir bagaimana mengungsikan ternak. Kami koordinasi dengan Dinas Peternakan. Lokasinya sudah disiapkan di samping barak Glagaharjo,” katanya.

Pihaknya telah mendata jumlah ternah yang dimiliki warga. Khususnya warga Kalitengah Lor sebagai terdampak langsung. Tercatat ada 294 ekor sapi jenis perah dan potong. Proses pembangunan diawali Sabtu (7/11) dan target digunakan Senin (9/11).

“Ternak masuk dalam prioritas evakuasi. Ini sudah tercantum kalau Merapi statusnya sudah Siaga. Tapi kami masih menunggu komando dari Kabupaten (Sleman). Tapi kapanewon dan desa sudah siap,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini Suparmono juga menjabarkan kegiatan pertambangan. Dari total 14 perusahaan, 10 diantaranya menghentikan operasional. Empat perusahaan tetap memilih operasional normal. Tepatnya tiga perusahaan di Kali Gendol dan satu perusahaan di Kali Kuning.

“Sepuluh perusahaan tambang itu di Kali Gendol. Aktivitas berhenti semenyara. Tapi untuk sisanya, wewenang menghentikan ada di ESDM provinsi bukan kami,” katanya.(dwi/tif)

Sleman