RADAR JOGJA – Berbagai macam model pembelajaran selama masa pandemi Covid-19 masih terus diupayakan. Hanya, pembelajaran yang tepat masih belum ditemukan.

Ketua Umum Dewan Pendidikan Kabupaten Sleman Sudiyo menjelaskan, pembelajaran yang pas semasa pandemi dinilai sangat tidak mudah. Berbagai macam pembelajaran di sekolah-sekolah telah dilakukan. Mulai dari pembelajaran menggunakan lembar kerja siswa (LKS) dan belajar dari rumah (BDR) tanpa bimbingan guru.

Pembelajaran juga diberikan melalui tugas. Hanya saja, tugas yang kadang overload membuat beban orang tua siswa. “Membuat orang tua pusing. Hampir semua tugas rumah menjadi beban orang tua untuk membimbing,” kata Sudiyo Kamis (5/11).

Sudiyo mengaku masih belum menemukan gagasan yang tepat untuk pembelajaran anak-anak usia taman kanak-kanak (TK) hingga SD yang butuh bimbingan langsung dari guru. Hanya, ada pilihan yang mungkin bisa dilakukan. Yakni tatap muka dengan jumlah maksimal sepertiga dari rombongan belajar (rombel). Masuk secara bergantian selama dua hari dan empat hari mengerjakan tugas dari rumah. “Masuk hanya maksimal 3-4 jam pelajaran tanpa istirahat. Dan dengan menerapkan protokol kesehatan ketat,” ungkapnya.

Sedangkan untuk tingkat SMP, lanjut Sudiyo, permasalahan pembelajaran tidak seberat tingkat SD. Yang mana untuk tugas BDR, bisa berjalan sesuai yang diharapkan dengan adanya sedikit praktek. Di Sleman dengan adanya inovasi Sembada Belajar, turut memberikan kemudahan pembelajaran bagi siswa melalui video. Oleh karena itu, Sudiyo berharap Sembada Belajar akan tetap dikembangkan hingga jenjang SMP.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sleman, Ery Widaryana mengaku saat ini Sembada Belajar masih diperuntukkan bagi siswa SD. Sedangkan unguk jenjang SMP, materi pembelajaran masih dikembangkan.

Dalam pengembangan Sembada Belajar, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan Kelompok Kerja Guru (KKG) akan dilibatkan. Dengan begitu, tidak hanya kompetensi siswa saja yang meningkat, namun juga kompetensi guru. “Rata-rata yang SMP sudah memiliki aplikasi pembelajaran sendiri. Tetapi kami tetap akan mengembangkan Sembada Belajar untuk SMP,” kata Ery.

Terpisah, Kepala Sekolah SMPN 4 Depok Lilik Mardiningsih mengaku jika sekolahnya telah memiliki model pembelajaran sendiri. Hal ini karena guru yang ada telah dibekali perencanaan pembelajaran hingga evaluasi. Saat ini, Direktorat Pembinaan SMP juga tengah mengembangkan modul luring dan daring.

Jika nantinya Sembada Belajat juga mengeluarkan video pembelajaran, Lilik tidak mengelak jika akan menggunakan keduanya. “Memperkaya media pembelajaran. Dari direktorat, paling lambat Desember sudah rilis,” jelas Lilik. (eno/bah)

Sleman