RADAR JOGJA – Pimpinan Pondok Pesantren Al Qodir KH Masrur Ahmad road show ke gereja-gereja. Menemui romo-romo dan paroki. Membangkitkan semangat kerukunan, silaturahmi, dan geliat ekonomi antar umat di masa pandemi Covid-19.

YOGI IP, Sleman, Radar Jogja

Hangat dan guyub. Suasana itu begitu terasa ketika KH Masrur Ahmad dan santri-santrinya disambut para romo dan umat Katolik di Gereja Santo Alfonsus De Liguori Nandan, Sinduadi, Mlati, Sleman, Selasa (3/11).

Semua hadirin memakai masker. Meja di ruang pertemuan ditata sedemikian rupa. Melingkar. Jarak kursi satu dan lainnya dibuat renggang. Meja kecil di depan ruang pertemuan tersedia hand sanitizer.

Itu sebagai bentuk kepatuhan terhadap protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Tak butuh waktu lama bagi Masrur Ahmad dan umat Katolik Nandan untuk saling sinergi.

Hubungan muslim dan umat Katolik di Sleman memang sudah terajut baik sejak lama. Terutama bagi Gus Masrur, sapaan akrabnya. “Banyak romo datang ke tempat saya. Bahkan Al Qodir sering untuk live in paroki,” ungkapnya.

Pandemi Covid-19 menjadi momentum bagi Gus Masrur untuk merajut kembali tali persaudaraan antar umat. Untuk bangkit bersama. Agar seluruh umat kembali sejahtera.

Dengan persaudaraan yang kian kokoh, tutur Gus Masrur, umat Katolik dan muslim akan mampu memulihkan kondisi ekonomi yang terpuruk akibat Covid-19. Dengan tujuan utama meraih kesejahteraan bersama. Sehingga seluruh umat bisa menjalani hidup dengan tenteram. Beribadah pun bisa lebih khusyuk.

Kiai kharismatik itu tak lupa menawarkan kerja sama. Pelatihan bersama. Antara santri dan umat Katolik. Misalnya dalam bidang pertanian, perikanan, perkebunan, dan usaha lainnya. “Selama pandemi Covid-19 ini seluruh umat harus lebih guyub. Ini jadi tugas para kiai dan romo-romo untuk menyejahterakan umat,” tutur tokoh nahdliyin (sebutan bagi warga Nahdlatul Ulama/NU) asal Wukirsari, Cangkringan, Sleman.

Wakil Ketua 2 Dewan Paroki Gereja Santo Alfonsus De Liguori Nandan Thomas RM Harja Wikarta menyambut baik niat dan tujuan Gus Masrur.

Baginya, pertemuan itu penuh rahmat. Sehingga harus terus diuri-uri. “Katolik dan Islam itu bebas roaming. Doa umat sama-sama sampai ke Tuhan,” ungkapnya.

Dari kunjungan Gus Masrur itu, Thomas pun berencana mengajak umat paroki bersilaturahmi ke Ponpes Al Qodir. Untuk saling mengenal lebih dekat. Antara santri dan umat Katolik.

Tak terasa obrolan berlangsung hampir dua jam. Tepat azan Duhur Gus Masrur berpamitan. Tapi tidak untuk langsung pulang ke Al Qodir.

Dalam perjalanan menuju lereng Gunung Merapi, lokasi Ponpes Al Qodir, Gus Masrur mampir ke  Gereja Santo Petrus dan Paulus Babadan, Condongcatur, Depok, Sleman.

Kehangatan suasana juga terasa ketika rombongan Gus Masrur disambut Romo Robertus Hardiyanta Pr dan paroki gereja.

Kebetulan Romo Hardiyanta memiliki visi yang sama dengan Gus Masrur. Jalinan umat di masa pandemi ini harus bisa ditingkatkan atas dasar keprihatinan bersama. Baik ihwal toleransi keberagamaan, ketahanan pangan, hingga pemulihan ekonomi dampak Covid-19.

Saat itu Romo Hardiyanta punya usulan menarik. Membangun kerja sama kegiatan santri dan umat paroki. Lalu ditayangkan secara live streaming melalui kalan Youtube. Sehingga bentuk peneguhan persaudaraan lintas iman itu bisa dijangkau oleh umat seluruh dunia. “Terlebih saat pandemi Covid-19. Ini harus bisa dijadikan

peluang atau kesempatan bersama-sama untuk melakukan kegiatan yang mengarah pada kebaikan dan isu-isu kemasuiaan,” tutur Romo Hardiyanta.

Gus Masrur menyambut baik usulan itu. Apalagi, sejarah persaudaraan umat paroki Babadan dan santri Al Qodir sudah terbangun sejak erupsi Gunung Merapi 2010 silam. “Kegiatan bersama itu bisa dijadikan percontohan untuk paroki-paroki lain. untuk lebih mengenal pesantren dan Islam. Demikian pula sebaliknya,” ungkapnya.

Di akhir dialog, Gus Masrur kembali menegaskan. Hubungan santri Al Qodir dan paroki tak ada sekat. Itu menjadi modal utama untuk memperkokoh persaudaraan nahdliyin dan umat Katolik di masa pandemi Covid-19.(*)

Sleman