RADAR JOGJA – Pemkab Sleman mengalami kendala dalam penanganan sampah. Tak bisa lagi mengandalkan TPST Piyungan untuk jangka panjang. Tapi pembuatan TPST sendiri terkendala lahan.

Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) DIJ Ditjen Cipta Karya Tri Rahayu mengatakan, penambahan kapasitas tersebut hanya memperpanjang usia hingga 2023 atau 2024 saja. “Peningkatan kapasitas TPST Piyungan ini menggunakan APBN tahun anggaran jamak 2020-2022 dengan anggaran Rp 112,25 Milliar,” kata Tri.

Dikatakan, penambahan kapasitas itu yakni dengan menata landfill dan optimalisasi instalasi pengolahan lindi. Untuk penataan awal yaitu akan ada penutupan sel sampah pada zona B. “Kemudian, untuk optimalisasi instalasi pengolahan lindi yaitu dengan pengadaan unit bak oksidasi dan pengendapan, maturasi 1 dan 2, dan sludge drying bed,” katanya.

Terkait permasalahan tersebut, Pemkab Sleman tak tinggal diam. Yakni, terus berupaya untuk mengurai permasalahan tersebut.Yakni, dengan membuat TPST sendiri di Sleman. Namun, sampai saat ini rencana tersebut belum juga tercapai karena belum adanya tempat yang disetujui untuk dijadikan sebagai TPST. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman tengah mempersiapkan dan mempertimbangkan wilayah mana yang akan dibuat TPST. Untuk wilayah barat, pihaknya tengah mempertimbangkan di wilayah Minggir. Sedang, di wilayah bagian timur di Prambanan, yakni di Desa Wukirharjo dan Desa Sumberharjo.

Kepala (DLH) Sleman Dwi Anta Sudibya mengatakan, awalnya pihaknya sudah merencanakan di Dusun Tambakboyo, Condongcatur. “Tetapi ada penolakan dari warga. Saat ini kami sedang mencari lokasi alternatif di Sleman barat dan timur,” katanya. (cr1/pra)

Sleman