RADAR JOGJA – Aktivis Jaringan Katolik (Jarkatol) Sleman mengunjungi kiai-kiai Tim 9 Nahdlatul Ulama (NU) di Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman Selasa (3/11). Kehadiran mereka untuk meyakinkan masyarakat Sleman. Bahwa NU dan Jarkatol Sleman solid. Mendukung pasangan calon (paslon) bupati-wakil bupati nomor urut 1 Danang Wicaksana Sulistya-R. Agus Choliq (DWS-ACH). “NU sekarang sedang solid-solidnya. Pun demikian Jarkatol. Jika ada pengecualian, itu paling hanya satu dua,” ujar Koordinator Jarkatol Sleman Kari Tri Aji usai dialog di kediaman Pimpinan Pondok Pesantren Al Falakhiyah Gus Fahmi Basya.

Kari mengatakan, kehadirannya siang itu juga untuk menambah kemantapan hati. Sekaligus mengklarifikasi isu-isu yang sempat berembus terkait geliat kontestasi Pilkada 2020 Sleman. Menurut Kari, isu-isu “miring” terkait dukung-mendukung paslon bupati-wakil bupati hanyalah bahasa politik. Untuk memecah kekuatan umat Katolik yang sedang gencar-gencarnya mendukung DWS-ACH.

Kerja sama nahdliyin dan umat Katolik, kata Kari, sudah terjalin sejak lama. Dalam banyak hal dan kegiatan. Baik dalam proses sosial maupun politik. “Nahdliyin sudah sering membantu kami. Sekarang NU sedang punya gawe (pilkada, Red), makanya kami bergerak membantu. Demi sukses bersam,” ungkap Kari. “Ibaratnya ini balas jasa kami untuk saudara tua,” sambungnya.

Sebagaimana diketahui, R. Agus Cholik merupakan kader NU yang akan berduet dengan Danang Wicaksana Sulistya untuk membangun Sleman ke depan.

Sejauh ini Jarkatol telah menggerakkan 18 paroki di seluruh Sleman untuk mendukung paslon nomor urut 1 itu.

Gus Fahmi Basya mengamini pernyataan Kari. Menurutnya, sebagian besar nahdliyin, baik di jajaran struktural NU maupun kultural telah satu suara memenangkan DWS-ACH di Pilkada Sleman.

Hubungan nahdliyin dan umat Katolik menjadi bagian dari perjuangan ideologis NU dalam bingkai NKRI. Untuk mempertahankan tali silaturahmi. “Ini harus kita pertahankan,” tegasnya.

Dikatakan, ikhtiar NU dalam Pilkada 2020 sudah berjalan sejak setahun lalu. Tim 9 NU pun terbentuk dari tingkat kabupaten hingga anak ranting. Sementara Agus Choliq merupakan kader muda NU yang akan mendampingi Danang Wicaksana Sulistya. Maka menjadi keharusan bagi nahdliyin untuk mendukung pasangan muda tersebut. “NU sekarang sedang kompak-kompaknya. Kempel (menyatu, Red),” ujar Gus Fahmi.

Gus Fahmi menegaskan, ikhtiar warga NU itu dilandasi keprihatinan. Karena selama belasan tahun terakhir peran nahdliyin tak begitu diperhatikan. Padahal nahdliyin merupakan mayoritas muslim di Sleman. Oleh karena itu, ikhtiar nahdliyin harus diperjuangkan. Demi perubahan Sleman yang lebih baik. “Insya Allah kami optimistis ikhtiar ini akan berhasil. Semoga diridai Allah SWT,” tutur kiai yang juga anggota Tim 9 NU.

Sebagaimana Jarkatol, Gus Fahmi tak menampik kemungkinan adanya nahdliyin yang tidak sejalan. Karena memiliki kepentingan berbeda. Menurutnya itu hal wajar. Dia memprediksi jumlah mereka tak lebih 10 persen dari total suara nahdliyin pada Pemilu Legislatif dan DPD RI 2019 lalu, sekitar 140 ribu.(*/ist)

Sleman