RADAR JOGJA – Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Makwan mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kemiringan tanah sebelum melakukan pembangunan.

Jika tidak, adanya talut penahan area halaman bangunan kos-kosan setinggi 3 meter dan panjang 16 meter di Gebang, Wedomartani ambrol pada Minggu (1/11) sore akibat hujan deras bisa mejadi contoh.

Makwan menuturkan, hujan deras dalam waktu singkat akan berpotensi menyebabkan tebing longsor atau talut ambrol. Hal ini karena aliran air yang tidak terarah menyebabkan lapisan tanah tergerus. “Contohnya itu, tebing tidak terlalu tinggi namun aliran air sangat deras. Jadi talut ambrol dan menghanyutkan tiga unit motor,” jelas Makwan Senin (2/11).

Tanah dengan kemiringan cukup tajam, lanjut Makwan, seharusnya tidak dibebani bangunan. Jika pembuatan talut diperlukan, juga harus memperhatikan adanya suling-suling air dan pengaturan airnya. Namun kenyataanya, beberapa daerah di perbukitan wilayah Sleman masih menjadi pembangunan untuk pemukiman warga. Dan tidak disertai pembangunan talut. “Karena jauh lebih mahal daripada pembangunan rumah,” ungkap Makwan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPU PKP) Sleman, Taupiq Wahyudi menjelaskan, jika ada talut rusak, pihaknya tidak bisa secara langsung memperbaikinya. Hal ini karena melihat prioritas tim dari apa yang harus dibenahi terlebih dahulu. “Karena anggaran juga terbatas, kecuali kondisi kerusakannya membahayakan. Kami juga berkoordinasi dengan BPBD Sleman untuk penanganan talut,” kata Taupiq.

Saat ini, Taupiq mengaku telah menggunakan anggaran biaya tambahan (ABT) sekitar Rp 10 miliar untuk menghadapi musim penghujan. Anggaran tersebut dialokasikan untuk membiayai sejumlah program pembangunan infrastruktur sebagai antisipasi pencegahan bencana banjir dan longsor di Sleman. “Termasuk rehabilitasi saluran irigasi,” kata Taupiq. (eno/pra)

Sleman