RADAR JOGJA – Beragam pertanyaan mengemuka saat Ketua Panitia Khusus (Pansus) Raperda Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran, DPRD Kabupaten Sleman Ani Martanti menggelar public hearing belum lama ini.

Pertanyaan peserta public hearing mulai prosedur dan teknik penanganan kebakaran, hingga syarat menjadi satlakar kalurahan. Satlakar merupakan satuan relawan kebakaran tingkat kalurahan.

Materi diskusi selaras dengan bahan kajian raperda yang sedang dibahas pansus.

Dalam dialog interaktif selama hampir dua jam itu, Ani menekankan pentingnya peran masyarakat dalam upaya antisipasi dan pencegahan kebakaran.

Misalnya saat menyalakan api kompor atau tungku untuk memasak makanan. Atau sekadar merebus air. Ini harus ditunggui. Agar saat tak sengaja timbul percikan api yang bisa menyebabkan kebakaran, dapat diantisipasi secepat mungkin. “Kalau sedang masak jangan ditinggal-tinggal terlalu lama. Apalagi di rumah sedang tidak ada orang,” tuturnya.

Contoh lain saat sekeluarga bepergian. Sebisa mungkin semua colokan beraliran listrik dicopot. Ini demi mencegah kebakaran jika terjadi korsleting. “Semua itu dari kebiasaan. Ayo biasakan waspada dan antisipasi dini kemungkinan timbulnya kebakaran di rumah sendiri,” ajak Ani.

Saat terjadi kebakaran, sambung Ani, keterlibatan masyarakat sangatlah vital. Masyarakat harus paham apa yang harus dilakukan agar kobaran api tak cepat membesar. Langkah ini guna mencegah timbulnya korban jiwa. Sekaligus meminimalisasi kerugian materiil.

Masyarakat yang terlibat harus terlatih. Jangan sampai warga yang berniat memadamkan api justru menjadi korban baru kebakaran yang terjadi. “Di situlah peran anggota satlakar. Warga setempat yang benar-benar terlatih untuk penanganan kebakaran,” jelasnya.

Menurut Ani, pemerintah kalurahan bisa mengalokasikan anggaran untuk membentuk satlakar. Serta menggelar pelatihan dan pengadaan sarana pemadam kebakaran sederhana. Yang terpenting, warga bisa bertindak cepat menjinakkan api sambil menunggu kedatangan tim pemadam kebakaran profesional.

Ketersediaan fire hydrant juga perlu dioptimalkan.Sejauh ini fire hydrant hanya untuk penanganan kebakaran di gedung-gedung bertingkat. Itu pun tak semua fire hydrant yang tersedia berfungsi dengan baik.

Nah, melalui raperda itu, Ani mendorong ketersediaan fire hydrant di tempat-tempat umum. Di bangunan atau tempat usaha yang luas. Misalnya pasar. Atau di tengah permukiman penduduk. (*)

Sleman