RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 turut berdampak pada dunia investasi. Di Sleman, sejumlah investor memilih menunda menanamkan modalnya. Diperkirakan, investasi lebih dari Rp 10 miliar belum dapat direalisasikan.

Kepala Bidang Penanaman Modal Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu ( DPMPPT), Arjunandir menjelaskan nilai investasi tersebut belum ditotal secara rinci. Hal ini karena satu hotel di wilayah Depok yang masuk dalam kategori Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) terhenti sementara waktu karena Covid-19. Sedangkan investor dari Tiongkok yang masuk dalam kategori Penanaman Modal Asing (PMA), disebutkan investasi tertunda senilai Rp 10 miliar. “Perusahaan bergerak di ranah frozen food,” kata Nandir Kamis (29/10).

Menurut Nandir, di masa pandemi Covid-19, kepercayaan investor haruslah dibangun. Salah satunya dengan adanya kebijakan yang mengatur protokol kesehatan secara ketat. Misalnya, kasus di Sleman tidak bertambah atau bisa dikendalikan. ”Hal ini bisa memicu munculnya kepercayaan investor,” tambahnya.

Meskipun adanya penundaan investasi, lanjut Nandir, investasi di Tri Wulan II 2020 sudah terealisasi. Dalam kategori PMDN, investasi terealisasi mencapai Rp 456, 2 miliar. Dengan nilai investasi tertinggi berasal dari hotel dan resto senilai Rp 223 miliar. Disusul dari konstruksi, dengan nilai investasi mencapai Rp105, 4 miliar. Investasi bidang perdagangan dan reparasi mencapai Rp 78,7 miliar, dan Rp 6,9 miliar di bidang transportasi, gudang dan telekomunikasi. ”Potensi yang dimiliki Kabupaten Sleman menarik untuk dilirik investor. Meskipun jenisnya kecil-kecil,” ungkap Nandir.

Sedangkan untuk PMA, tercatat ada 66 proyek bernilai 1.542,2 US$ yang terealisasi. Dari total teraebut, nilai investasi tertinggi berasal dari perdagangan dan reparasi yakni 590,4 ribu US$. Setiap investasi yang telah terealisasi, juga telah dilaporkan dalam laporan kegiatan penanaman modal kepada pemerintah.

Nandir mengungkapkan, selama ini tantangan investasi di Kabupaten Sleman lebih kepada adanya keterbatasan lahan dan tingginya harga tanah. Oleh karena itu, pihaknya tak jarang mengarahkan agar investasi yang masuk tidak memerlukan lahan luas. Selain itu, pihaknya juga mengarahkan agar investor bisa melirik sektor agrowisata maupun agroteknologi. “Misalnya perkebunan blimbing madu, kelengkeng, kebun bunga. Tidak semua bangunan” ungkapnya. (eno/bah)

Sleman