RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 berdampak terpuruknya sektor ekonomi masyarakat. Tak sedikit pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Karena perusahan tempat mereka bekerja merugi sejak awal pandemi.

Kondisi itu menjadi salah satu dorongan yang menggerakkan hati Pimpinan Pondok Pesantren Al Qodir, Wukirsari, Cangkringan KH Ahmad Masrur turun gunung. Dari lereng Gunung Merapi, Gus Masrur, begitu sapaan akrabnya, road show keliling Kabupaten Sleman. Menyambangi gereja-gereja. Berdiskusi dengan romo-romo dan pastor. Untuk membangun kekuatan ekonomi secara bersama-sama.

Selasa (27/10) lalu tiga gereja sekaligus menjadi tujuan silaturahmi Gus Masrur dan beberapa santrinya. Yakni Paroki Kalasan, Macanan, dan Minomartani.

Di Paroki Minomartani, Gus Masrur disambut Romo Antonius Gunardi MSF serta umat Gereja Santo Petrus dan Paulus. Dalam pertemuan tersebut, Gus Masrur menuturkan pentingnya silaturahmi antarumat beragama. Mempererat persaudaraan dan kebersamaan. Khususnya umat muslim dan Katolik/nasrani.

Untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat. Terutama bagi umat yang terdampak Covid-19 dari segi ekonomi. “Kerja sama antara Nahdlatul Ulama (NU) dengan gereja-gereja. Bareng-bareng ngopeni umat supaya sejahtera, baik muslim maupun Katolik,” paparnya.

Menurut Gus Masrur, pertemuan siang itu menjadi modal dasar yang baik untuk ditindaklanjuti dengan aksi nyata. Misalnya dengan kegiatan pelatihan usaha bersama. Supaya muslim dan umat Katolik terdampak Covid-19 bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi.

Dalam kesempatan itu Gus Masrur juga sedikit menyinggung perhelatan Pilkada 2020 Sleman. Terkait hal itu, dia mengajak seluruh umat beragama sama-sama menjaga kondusivitas. Jangan sampai agama ditunggangi untuk kepentingan politik sesaat. Apalagi jika sampai terjadi gesekan horizontal. Itu harus dicegah bersama-sama. Sehingga masing-masing umat bisa menjalankan ibadah secara aman, nyaman, dan khusyuk. “Jangan sampai umat beragama diplekotho. Ini demi ketenangan dan ketenteraman masyarakat,” tegasnya.

Seandainya terjadi gesekan pun, lanjut Gus Masrur, semua bisa diselesaikan dengan berembuk bersama. Sehingga tidak akan terjadi aksi-aksi anarkistis yang tak diharapkan. “Semua itu harus diantisipasi sejak awal. Caranya ya dengan saling bersilaturahmi seperti ini,” lanjut Gus Masrur.

Romo Antonius Gunardi pun sangat apresiatif atas pertemuannya dengan Gus Masrur. Menurutnya, solidaritas dan silaturahmi umat memang harus dijaga terus dengan baik. Bisa dikemas dengan dialog kehidupan maupun karya. Yang bermanfaat untuk kesejahteraan umat. “Pertemuan ini peristiwa yang sangat membahagiakan. Kami bangga Pak Kiai (Masrur) kersa tindak mriki (berkenan berkunjung ke sini/Gereja Petrus dan Paulus, Red),” ungkapnya.

Romo Antonius pun berpesan agar orang Indonesia menjadi sosok yang terbuka dan selalu menjaga persaudaraan dan kebersamaan. Sehingga tak ada lagi sekat antarumat.

Sebelumnya, dalam kunjungan di Paroki Macanan, Gus Masrur dan rombongan disambut Romo Antonius Dadang. Dialog antar dua tokoh kharismatik itu mengerucut untuk sama-sama membangun ekonomi keumatan. Mewacanakan pengembangan pelatihan keuangan dan merintis usaha bersama yang melibatkan kaum muda.(*/ist)

Sleman