RADAR JOGJA – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Dwi Anta Sudibya mengakui kondisi sungai-sungai besar di Sleman tidak begitu baik. Ini karena indeks kualitas sungai berada pada angka 43. Penyebab utama adalah tingginya pencemaran bakteri E Coli di aliran sungai.

Kondisi ini hampir merata terjadi di seluruh aliran sungai di Sleman. Penyebab utamanya adalah pencemaran limbah kotoran. Terutama dari kotoran manusia maupun kotoran hewan. Ini karena ada beberapa hunian dan kandang yang mengarahkan pipa pembuangan ke arah sungai.

“Pencemaran E Coli kategorinya sudah kurang baik karena indeks kualitas sungai 43. Ini indeks tahun 2019. Bakteri ini hampir di semua sungai ada. Entah dari kotoran manusia maupun hewan,” jelasnya ditemui usai upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di DAM Sempu, Wedomartani Ngemplak Sleman, Rabu (28/10).

Kondisi ini tentu sangat memprihatikan. Terlebih Kabupaten Sleman adalah hulu utama aliran sungai besar di DIJ. Apabila kondisi hulu tak baik, maka dampaknya hingga ke hilir. Terutama di wilayah Kota Jogja dan Kabupaten Bantul.

Upaya antisipasi telah tersusun tahun ini. Berupa identifikasi sumber pencemar sungai di wilayah Sleman. Sayangnya program ini tak berjalan karena ada restrukturisasi anggaran akibat pandemi Covid-19.

“Tahun ini seharusnya ada identifikasi potensi pencemaran. Apakah dari peternakan, rumah tangga atau hotel. Selanjutnya hasil kami sampaikan ke dinas terkait yang berwenang. Seperti kandang ternak ke Dinas Pertanian,” katanya.

Walau begitu upaya menjaga ekosistem sungai tetap berlangsung. Salah satunya dengan melibatkan komunitas pelestari sungai di Sleman. Berupa kegiatan bersih-bersih di sepanjang aliran sungai.

Keterlibatan komunitas sungai, lanjutnya, sangatlah penting. Terlebih Sleman memiliki 6 hingga 7 sungai besar. Artinya peran menjaga sungai menjadi tanggung jawab dan kesadaran bersama.

“Untungnya Sleman punya 48 komunitas peduli sungai. Secara bergantian Melakukan giat bersih sungai di akhir pekan. Seperti hari ini di DAM Sempu, ini adalah aksi kepedulian yang sangat bagus dan nyata,” ujarnya.

Aksi bersih Sungai Kuning melibatkan puluhan pemuda. Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan hari Sumpah Pemuda. Fokusnya adalah memunguti sampah-sampah plastik dan non organik di sepanjang 800 meter ke arah hilir.

Ketua Komunitas Sungai Sleman Irawan menuturkan pemuda memiliki peran penting dalam pelestarian sungai. Memiliki rasa kepedulian yang tinggi dan ide-ide yang segar. Sehingga upaya pelestarian sungai dapat berjalan simultan dan efektif.

“Ini adalah momentum orang muda, turut menjaga sungai sebagai wilayah konservasi alami. Termasuk memuliakan, mempertahankan dan menjaga kualitas air. Ini anak-anak muda yang bisa bergerak seperti ini,” katanya.

Dia berharap agar generasi muda menaruh perhatian lebih. Menjadikan sungai sebagai sahabat alam. Tentunya untuk melahirkan rasa tanggungjawab bersama dalam menjaga ekosistem alaminya.

Aliran Sungai Kuning memiliki arti yang sangat penting. Berhulu pada lereng Merapi, sungai ini menjadi tumpuan hidup mahluk hidup di sekitarnya. Apabila tak terjaga maka ekosistem menjadi tak seimbang.

“Gerakan kami adalah menyelamatkan air dan mata air. Cukup banyak mata air yang memang punya potensi besar untuk dikembangkan. Entah itu kebutuhan primer maupun potensi wisata,” ujarnya.(dwi/tif)

Sleman