RADAR JOGJA – Hari ini, tepat 10 tahun lalu, Gunung Merapi meletus dahsyat hingga meluluhlantakkan sebagian wilayah  lereng di Kabupaten Sleman, Magelang, Klaten, dan Boyolali. Lokasi terparah adalah dusun-dusun di Kecamatan Cangkringan, Sleman.

Erupsi gunung api teraktif di dunia saat itu, diyakini sebagai yang terbesar dalam 100 tahun terakhir. Sejumlah dusun terkena terjangan awan panas dan terkubur material Merapi. Korban jiwa mencapai ratusan orang. Termasuk Juru Kunci Merapi Mbah Maridjan.

Saat ditemukan meninggal oleh relawan pasca-letusan Merapi, Mbah Maridjan dalam posisi sujud di salah satu sudut rumahnya, Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan. Mbah Maridjan kemudian dimakamkan di Dusun Srunen, Glagaharjo, Cangkringan.

ELANG KHARISMA DEWAGGA/RADAR JOGJA

Ketua Komunitas Siaga Merapi Desa Glagaharjo Rambat Wahyudi mengatakan, adanya erupsi Merapi 10 tahun lalu ada hikmah di balik musibah itu. “Warga menjadi mengerti apa itu mitigasi dan pentingnya mitigasi bencana, karena tinggal dan hidup di lereng Merepi,”  ungkapnya saat ditemui Radar Jogja, Kamis (22/10).

Dikatakan, karena banyak rumah warga yang rusak saat erupsi itu,  maka pemerintah merelokasi ke wilayah yang lebih aman yakni dengan dibuatkan hunian tetap (huntap). “Huntap itu dibangun sekitar empat bulan. Kalau di Glagaharjo ini ada tiga, yakni Huntap Banjarsari, Gading, dan Glagahmalang,” sebutnya.

Dari sisi mitigasi, warga semakin sadar. Erupsi 2010 mengajarkan masyarakat bahwa hidup di lereng Merapi itu harus hidup harmoni dan wasapada. “Sekarang situasi normal harus bagaimana, waspada, awas harus bagaimana, mereka sudah paham betul,” katanya.

Selepas terjadinya letusan dahsyat itu, terjadi perubahan yang signifikan terhadap desanya. “Semuanya hancur, desa kami kurang lebih 80 persen terkena semua. Dan lumpuh total. Kemudian warga banyak yang tinggal di perumahan desa di huntap,” ungkapnya.

Selain itu juga terjadi kerusakan jalur poros desa yang biasa digunakan untuk jalur evakuasi, jalur ekonomi, dan sebagainnya. “Karena erupsi itu jadi hancur. Dan sekarang belum tersentuh perbaikan. Maka ketika terjadi erupsi lagi, kami terpaksa menggunakan jalur perbatasan. Namun jalan-jalan yang di kampung sudah baik, ketimbang sebelum erupsi,” jelas Rambat.

Dia mengatakan, sebenarnya di wilayahnya dihancurkan oleh letusan Merapi, 5 November 2010. Yakni letusan kedua dari gunung api yang berada di perbatasan DIJ-Jateng itu. Yang mengakibatkan seluruh wilayahnya terdampak sekitar 80 persen.

Kasi Pembangunan sekaligus penghuni Huntap Banjarsari Desa Glagaharjo Sriyono merasakan perubahan yang besar setelah terjadinya erupsi 10 tahun lalu. “Butuh proses untuk bangkit dan trauma healing bagi masyarakat,” tuturnya.

Dia mengatakan, perubahan yang dirasa, dulu ketika masih di dusun masing-masing sangat leluasa. “Halaman luas, rumah luas. Di lingkungan kan juga banyak lahan. Sedangkan sekarang tinggal di huntap tempatnya lebih terbatas. Kecil dan sederhana. Tidak bisa ternak, kemudian susah untuk mengembangkan usaha. Dari segi sosial sangat berdampak,” ungkapnya.

Dari segi ekonomi, juga sedikit mengalami kelumpuhan. Untuk membangkitkan perekonomian, mereka menanam tanaman sayur di depan huntap mereka. Dengan tujuan bisa membantu perekonomian mereka karena menghemat pengeluaran.

Ada tanaman cabe, sawi, dan sebagainnya. Itu bisa sedikit- menghemat pengeluaran mereka. Kalau tidak ditopang dengan itu, akan cukup berat. Kalau pengeluaran rutin tetapi penghasilan rutin, mereka tidak punya. “Itu permasalahan warga kami saat ini,” ungkapnya.

Dikatakan, sarana dan prasana sejak awal berdiri, huntap belum ada perubahan. Proses pembuatannya pun sangat tergesa-gesa dan kejar target. Perbaikan di huntap masih sulit. Karena warga kesulitan ekonomi, ada yang sampai saat ini huntap belum ada perubahan. “Tapi kalau anggota KK yang punya penghasilan, bisa jauh berbeda sekali dengan yang lain,”  katanya.

Karena bencana, kehidupan mereka berubah 100 persen. “Ya harapan kami, mau tdak mau suka tidak suka, karena harus berdomisili di situ, ya harus menyesuaikan lebih lama,” ujarnya.

Sriyono menyebutkan, fasos dan fasum baik di huntap maupun sarana di Glagaharjo belum sempurna. Seperti jalan poros desa, karena merupakan kebutuhan vital. Untuk jalur evakuasi, ekonomi, transportasi antar desa dan sebagainnya.

“Ini masih ada sekitar 2,3 km yang belum tersentuh. Kalau dari swadaya masyarakat desa kemarin sudah bisa 1,3 km. Ada juga pihak ketiga yang membantu. Saya berharap pemerintah bisa ikut membantu dan menyentuh jalan itu,” papar Sriyono.

Dia meyakini jika itu bisa terbangun, maka pertumbuhan ekonomi akan tumbuh luar biasa dan pesat. Masih juga dibutuhkan pengertian reklamasi lahan, sebab banyak di kanan kiri jalan tanah milik warga. Kalau bisa terbangun maka pertumbuhan ekonomi akan tumbuh secara pesat dan luar baisa.

“Namun reklamasi lahannya belum sempurna, karena waktu itu masih asal-asalan. Hanya diambil pasirnya saja, krakal atau batunya mungkin belum ke ambil semua. Maka harus ada pembenahan reklamasi lahan, supaya saat tetandur bisa sempurna,” harapnya.

Dia menyebutkan, Glagaharjo ada 20 dusun dan tiga kawasan rawan bencana (KRB). Tiga KRB itu, antara lain, Dusun Srunen, Kalitengah Lor, dan Kalitengah Kidul. “Pemerintah sudah menyediakan lahan, tetapi mereka belum mau direlokasi,” katanya.

Salah seorang warga Dusun Srunen Maryono, 54, mengungkapkan  peristiwa mengerikan saat erupsi Merapi 10 tahun lalu. “Waktu itu suaranya gemuruh dulu. Saya dan keluarga, juga warga lain kalang kabut. Mereka lari semua. Tidak tahu ke mana yang penting ke arah bawah,” ceritanya.

Rumahnya terkena dampak dan butuh waktu untuk menghilangkan trauma itu. “Saya dan keluarga alhamdulillah selamat. Kami waktu itu sama aparat diarahkan ke barak pengungsian Glagaharjo. Situasinya sangat menegangkan,” tuturnya.

Dia juga melihat saat erupsi itu dengan jelas. “Itu kan dua kali, malam-malam itu ada api yang membakar pohon. Kami tidak memperdulikan harta, yang penting menyelamatkan diri,” kata pria paruh baya asal Srunen RT 03/RW 16 itu.

Keganasan erupsi Merapi waktu itu tidak lantas membuatnya dan warga lain mau direlokasi oleh pemerintah. Baginya, Merapi adalah tempat tinggal dan sudah menjadi tempat mereka hidup sejak kecil. “Kalau kami dipindah nanti bagaimana, kami tidak bisa beternak. Yang penting kami di sini waspada,” ujarnya.

Dia juga mengaku erupsi dahsyat satu dasawarsa lalu itu menjadi sebuah pembelajaran tentang mitigasi bencana. “Kami sekarang jadi tahu, sedikit banyak tahu sifat-sifat Merapi,” sebutnya.

BPBD Antisipasi Erupsi Merapi saat Pandemi

ELANG KHARISMA DEWAGGA/RADAR JOGJA

Di tengah pandemi Covid-19, antisipasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman atas potensi erupsi Merapi terus dilakukan. Di antaranya akan menerapkan sister village dan sister family.

“Untuk rencana kontijensi (rekon) erupsi Merapi sudah kami siapkan. Tetapi kami lakukan updating lagi karena pandemi dan kami sesuaikan dengan prokes saat pandemi,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sleman Henry Dharma Wijaya sata dihubungi Radar Jogja  (22/10).

Dikatakan, barak pengungsian untuk bencana Merapi rata-rata 300 orang. Karena pandemi, kapasitanya harus dikurangi untuk menerapkan jaga jarak.  “Kami isi maksimal separuhnya, bahkan hanya sepertiganya saja. Yang lain lalu kami petakan dan kami terapkan sistem atau konsep sister village dan sister familly,” ujarnya.

Dia menjelaskan, sister village yaitu mengarahkan warga dari desa terdampak ke desa penyangga yang tidak terkena dampak erupsi Merapi. Sedang sister village menggunakan sistem kekeluargaan.

“Saudara terdampak di sekitaran radius berbahaya itu nanti kami data. Apa punya saudara di wilayah bawah. Nanti ditempatkan di rumah-rumah kalau ada tempat atau saudara yang bisa untuk mengungsi, kami catat. Sister familly ini akan kamu siapkan dan akan kami data,” paparnya.

Hal itu karena barak yang ada tidak mungkin ditambah. Untuk itu, pihaknya menyiapkan data keluarga yang bisa untuk tempat mengungsi. “Kalau sudah dapat semua, nanti kebutuhan dasar dan logistik kami persiapkan. Tidak hanya untuk yang mengungsi di barak pengungsian tetapi untuk yang mengungsi ke keluarga juga. Yang mendata nanti dari pedukuhan, RT, RW. Nanti akan ketahuan keluarga ini akan mengungsi ke mana dan di mana,” ungkapnya.

Pihaknya masih mengadakan FGD terkait hal itu. Dia mengatakan, di sekitaran lereng Merapi ada tujuh desa yakni dua di Kecamatan Turi, dua di Pakem dan tiga desa di Cangkringan. “Kami mengadakan FGD sejak awal September lalu sampai ini sudah FGD dua kali. Kurang satu kali lagi, kemudian desa itu juga memperbaharui rekon-nya masing-masing berdasarkan prokesnya,”  tambah Henry. (cr1/laz)

Sleman