RADAR JOGJA – Bertempat di Dusun Relokasi Pelem, Girikerto, Turi, Komunitas Rumah Baca Anak Lereng Merapi hadir untuk memberikan literasi kepada anak-anak di sana. Untuk giat membaca buku, mengenal alam hingga memikirkan keadaan sosial.

SEVTIA EKA NOVARITA, Sleman, Radar Jogja

Berdirinya komunitas ini dilatarbelakangi keadaan anak-anak di Lereng Merapi yang memiliki kendala aksesibilitas pendidikan. Hal ini diungkapkan salah seorang relawan Desi Rahmawaty. Literasi menjadi hal penting untuk bisa melihat dunia dari kacamata yang lebih tajam. Dari literasi pula seseorang bisa membaca suatu hal dari sudut pandang yang lebih luas.

Didirikannya Komunitas Rumah Baca Anak Lereng Merapi juga disasarkan pada hanya adanya beberapa SD yang dekat dengan desa itu. Sedangkan akses untuk SMP maupun SMA jaraknya cukup jauh. Dari kominitas ini, alternatif pilihan mencoba ditawarkan kepada anak yang lulus SMP maupun SMA yang tidak memiliki banyak pilihan.

Dari letak geografis yang berada di kawasan bencana, literasi yang diberikan berkaitan dengan alam dan lingkungan. “Selain itu kami  ingin memberikan informasi tentang pendidikan karakter dan sosial,” tutur Desi Minggu (25/10).

Kegiatan yang dilakukan komunitas juga sangat beragam. Mulai dari literasi baca, kemah literasi, pengenalan potensi dan lingkungan sekitar. Selain itu, berkunjung dan menggali ilmu ke tokoh-tokoh desa, hingga mempelajari proses evakuasi saat terjadi bencana alam.

Kurikulum khusus juga telah disusun dan akan diperbaiki setiap tahunnya. Kurikulum itu memiliki tiga garis besar, meliputi literasi teks book, literasi alam, serta literasi sosial. Tidak hanya itu, komunitas juga mulai membuat pemberdayaan perekonomian pemuda melalui kegiatan ternak lele. Khususnya bagi anak yang sudah SMA, dan akan tergabung dalam karang taruna. “Gabung dengan pemuda yang sudah lulus sekolah, agar mereka bisa berdaya ekonomi,” tuturnya

Menyasar seluruh anak-anak di Lereng Merapi, anak-anak juga dilibatkan sebagai subjek kegiatan. Hal ini dirasa sangat penting karena anak nantinya tidak hanya mengikuti relawan. Namun juga dilibatkan dalam mengatur maupun menentukan kegiatan. Mulai dari ide hingga menyusun agenda yang mana anak dilibatkan sebagai subyek. “Penting agar anak-anak bisa terus mau ikut dalam kegiatan, kami libatkan mereka,” kata Desi.

Anak-anak di desa, lanjut Desi, dinilai menjadi bagian penting bagi pembangunan bangsa. Pertama untuk mencapai hal itu dengan mengajarkan anak-anak di desa untuk bisa mencintai dan peduli dengan desa mereka sendiri. Ketika anak-anak desa sudah memiliki rasa cinta dan bangga kepada desanya sendiri, mereka bisa menggali potensi di desanya untuk kepentingan yang lebih luas.

Banyaknya donasi buku ke komunitas, beberapa kali lapak buku di desa-desa tetangga juga dibuka. Hal ini dilakukan agar desa lain juga turut merasakan manfaat dari apa yang sudah dibangun oleh komunitas ini. “Agar desa tetangga bisa merasakan manfaat yang sama dengan cara membuka lapak,” ungkapnya. (laz)

Sleman