RADAR JOGJA – Pedagang pasar tradisional harus bangkit. Segala daya dan upaya dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman. Agar roda ekonomi masyarakat terus berputar di masa pandemi Covid-19 saat ini.

KEKUATAN sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci sukses kebangkitan ekonomi di masa pandemi Covid-19. Di pasar-pasar tradisional, para pedagang menjadi subjek kebangkitan ekonomi.

Disperindag Sleman pun menyiapkan pedagang pasar tradisional agar segera bangkit dan memiliki semangat baru di era adaptasi kebiasaan baru.

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Tradisional Johan Alwanudin menjelaskan, sekolah pasar menjadi wadah peningkatan kualitas pedagang di era adaptasi kebiasaan baru.

Bermaterikan tentang kewirausahaan, sekolah pasar menyasar seluruh pedagang pasar tradisional. Bahkan pedagang kaki lima (PKL).

Sejauh ini program sekolah pasar telah dilaksanakan di 12 lokasi. Antara lain, Pasar Sleman, Cebongan, Gamping, Godean, Kebon Agung, Turi, Pakem, Gentan, Prambanan, Potrojayan, Condongcatur, dan Kejambon. Pelaksanaan sekolah pasar dilakukan melalui paguyuban pedagang. “Kami menggandeng narasumber yang memiliki kompetensi kewirausahaan,” kata Johan (15/10).

Dari total 42 pasar tradisional di Sleman, 29 di antaranya tergolong aktif. Pelatihan melubatkan perwakilan pedagang sejumlah 35-40 orang. Dengan jumlah pertemuan 10-12 kali.

Usai pembekalan materi, para pedagang diajak studi banding ke pasar-pasar lain. Seperti pasar di Purwokerto, Malang, Batang, dan Solo, yang memiliki tingkatan lebih baik. Termasuk pasar standar nasional di Bali. “Untuk program kunjungan pasar terhenti sementara karena pandemi,” ungkapnya.

Sejak pandemi Covid-19, para pedagang pasar tradisional diarahkan untuk jualan secara online. Seperti di Pasar Sambilegi. Bekerja sama dengan Universiras Gadjah Mada (UGM), Pasar Sambilegi telah memiliki website untuk jualan online. Website: pasarsambilegi.id diluncurkan 14 Juli lalu secara virtual.

Empat pasar lainnya juga tergolong aktif melakukan penjualan secara online. Yakni Pasar Gentan, Cebongan, Godean, dan Gamping.

“Yang aktif itu, namun scara keseluruhan sudah melakukan penjualan online. Ada yang bekerjasama dengan biro jasa pengantaran barang maupun hanya menerima pesanan via aplikasi WhatsApp,” papar Johan.

Kabid Pengelolaan Fasilitas Perdagangan Tradisional Cahyoto menambahkan, penjualan online menjadi bagian dalam penerapan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19. Dengan begitu, interaksi antara pedagang dan pembeli bisa diminimalisasi.

Penerapan prokes di pasar tradisional juga berlaku ketat. uturkan persiapan di era kebiasaan baru telah dilakukan sejak adanya pandemi Covid-19. Mulai adanya satuan petugas pasar, pemasangan sarana cuci tangan, hingga pemberlakuan jalur khusus di setiap pintu masuk pasar. Saat ini sedikitnya delapan pasar telah menerapkan jalur khusus untuk keluar masuk pengunjung. Yakni Pasar Ngijon, Godean, Cebongan, Kalasan, Sleman Unit 1, Gentan, Prambanan, dan Sambilegi.

Optimalisasi fungsi CCTV juga telah dilakukan. Untuk memantau ketaatan para pedagang dan pengunjung pasar dalam pelaksanaan prokes.

Sebelumnya, CCTV digunakan untuk mengawasi kemungkinan adanya tindak kejahatan. Saat ini CCTV juga difungsikan untuk memudahkan tracing jika terjadi persebaran kasus Covid-19 di pasar.

Sementara di pasar yang belum memiliki closed circuit television (CCTV), komunikasi petugas melalui handy talky (HT) lebih dimaksimalkan. Petugas juga rutin patroli sekaligus untuk mengingatkan pengunjung dan pedagang agar selalu mematuhi protokol kesehatan.

“Monitoring sarana prasarana tiap minggu keliling pasar. Patroli kebersihan dua hari sekali,” ungkap Cahyoto. (*/eno/yog/gp)

Sleman