RADAR JOGJA – Ratusan massa aksi yang tergabung dalam Komunitas Kawulo Ngayogyakarta melakukan aksi penolakan terhadap aksi anarkistis di DIJ. Komunitas yang terdiri dari 50 organisasi masyarakat, relawan dan komunitas, melakukan Kirab Bergodo Aksi Budaya dari Bundaran UGM dan dilanjutkan dengan long march menuju Pertigaan UIN Sunan Kalijaga Minggu (25/10).

Koordinator Komunitas Kawulo Ngayogyakarta Waljito menjelaskan, aksi massa yang dilakukan melibatkan bergodo sebagai simbol kebudayaan di DIJ. Untuk menunjukkan jika nantinya akan ada aksi, tidak diwarnai dengan anarkistis. Meskipun demikian, Waljito berharap, ke depannya masyarakat Jogja bisa tetap kritis. ”Hanya saja, kritikan tidak disampaikan dengan wujud anarkisme dan merusak Jogja,” jelasnya.

Kekritisan, jelasnya, bisa diwujudkan dalam bentuk kritikan-kritikan. Dalam aksi yan dilakukan, lanjut Waljito, tuntutan yang disuarakan adalah menuntut kepada semua pihak agar saat melakukan aksi unjuk rasa. Termasuk, tidak menganggu ketertiban umum.

”Anarkistis dipandang tidak mencerminkan Kota Jogja sebagai kota budaya,” katanya.

Meskipun demikian, Waljito mengaku, pihaknya tidak menolak jika nanti ada aksi yang dilakukan oleh mahasiswa. Hanya, aksi harus dilakukan secara damai dan tidak merusak fasiltas yang ada di Jogjakarta. “Jika ingin menyampaikan aspirasi, kami dukung,” tegasnya.

Sementara itu, Kasatlantas Polres Sleman AKP Mega Tetuko menuturkan, pengamanan dan rekayasa lalu lintas tetap dilakukan saat adanya kirab. Hanya, rekayasa yang dilakukan adalah seleksi prioritas. Pihaknya, mengurangi arus yang searah dan sejalan dengan rombongan.

Meskipun ada penutupan ruas jalan, Mega mengaku pada 16.27 pembukaan ruas jalan sudah dilakukan. Sebelumnya, ada pengalihan kendaraan roda empat di depan gedung Wanitatama dan di Penggalan Gajah Wong dari arah timur. “Dengan jumlah 40 personel lantas diterjunka di simpang tiga UIN Sunan Kalijaga,” ungkapnya. (eno/bah)

Sleman