RADAR JOGJA – Alat pendeteksi Ge-Nosevid buatan tim UGM Jogjakarta memasuki tahapan uji diagnostik. Alat penguji ini ditempatkan di sembilan rumah sakit di Indonesia selama tiga Minggu kedepan. Tepatnya di Jogjakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jakarta. Untuk menguji sampel setiap pasien yang memeriksakan diri.

Awalnya alat penguji ini telah meraih 97 persen akurasi mesin. Tahapan selanjutnya adalah akurasi medis melalui uji diagnostik. Guna menghitung tingkat sensitifitas, spesifikasi dan akurasi.

“Harapannya dengan adanya alat ini bisa mencapai ekuilibrium yang baru. Agar bisa beraktivitas normal tapi tidak meninggalkan protokol yang ada,” jelas Peneliti Ge-Nosevid UGM Dian Kesumapramudya Nurputra, ditemui di RSUP Sardjito, Senin (26/10).

Pengujian, lanjutnya, bertujuan menguatkan hasil riset. Terlebih sampel diagnostik yang diuji lebih banyak dari uji sampel riset. Hingga akhirnya Ge-Nosevid memenuhi standar medis, komite etik dan standar baku yang ada.

Uji coba sampel dilakukan bersamaan dengan uji swab PCR. Tujuannya untuk membandingkan data antara dua pengujian. Termasuk mengetahui tingkat akurasi Ge-Nosevid terhadap pendeteksian Covid-19.

“Harus diujikan di 10 rumah sakit, progresnya RSUP Sardjito pertama untuk uji diagnostiknya. Lalu 8 rumah sakit lainnya menyusul dan satu lagi masih dalam pengembangan. Pasien diambil sampel nafas bersamaan dengan swab, untuk membandingkan,” katanya.

Target uji diagnostik menyasar 1.500 pasien. Dengan perhitungan satu pasien sebanyak 2 kali uji sampel nafas. Artinya akan didapatkan kisaran 3.000 uji sampel nafas. Hipotesa capaian kasus adalah 10 persen dari total sampel yang teruji.

Ge-Nosevid telah melalui serangkaian pengujian. Terakhir telah mendapatkan sertifikat lulus uji fungsi dari Kemenkes. Sensor dinyatakan sesuai standar, sehingga data lebih akurat. Diwaktu yang sama, Kemenkes juga telah menerbitkan ijin produksi.

“Uji diagnostik maju lebih awal dari sebelumnya November. Target selanjutnya bulan Desember untuk adalah uji diagnostik post marketing. Setelah itu alat mulai disebarkan dan dipakai oleh masyarakat,” ujarnya.

Dian mengklaim Ge-Nosevid lebih efisien dibandingkan uji swab PCR. Ini karena hasil yang lebih cepat sekaligus menjadi solusi atas tingginya mobilisasi masyarakat.

Ge-Nosevid juga digadang-gadang mampu menunjang proses medis yang lebih efisien. Mulai dari kecepatan tracking, tracing, isolasi dan perawatan medis. Sehingga bisa memisahkan orang yang terpapar Covid-19 dengan orang yang sehat.

“Dan orang sehat bisa bergerak keluar untuk menjalankan proses ekonomi. Mengunci sebaran kasus (Covid-19) dengan cepat,” harapnya.

Ge-Nosevid bekerja mendeteksi keberadaan virus di tenggorokan melalui peta metabolisme. Caranya, melacak senyawa hidrokarbon komplek milik Sars-Cov 2. Data didapatkan dari tangkapan hembusan nafas pasien.

“Ada 10 sensor, alat dilatih terus menerus termasuk saat uji diagnostik. Sistem AI makin sering terpapar Covid-19 semakin akurat mendeteksinya. Ge-Nosevid ini membaca polanya,” katanya. (dwi/tif)

Sleman