RADAR JOGJA – PANDEMI Covid-19 berakibat turunnya pendapatan pedagang pasar tradisional di Sleman hingga 60 persen. Kini mereka mulai bangkit. Sejak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman merumuskan kebijakan baru. Membuka ruang ekonomi yang lebih luas bagi pedagang pasar tradisional.

Langkah pertama, melengkapi setiap pasar tradisioanal dengan sarana dan prasarana era adaptasi kebiasaan baru. Tak kurang 200 alat cuci tangan dibagikan ke seluruh pasar tradisional se-Sleman. Total 42 pasar tradisional.

Bersama tim gugus tugas Covid-19 Sleman, Disperindag juga terus berupaya menjaga sterilisasi pasar tradisional. Petugas keamanan disiagakan di pintu-pintu utama.

Jalur keluar masuk pengunjung diatur sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi kerumunan pengunjung pasar. Lorong pasar juga ditata. Lapak antar pedagang diatur jaraknya. Sehingga para pengunjung bisa leluasa berbelanja tanpa berdekatan dengan lainnya. Pun antar pedagang dan konsumennya.

Protokol kesehatan di pasar tradisional terus diperketat. Setiap pedagang maupun pengunjung wajib memakai masker. Petugas keamanan memastikan setiap orang yang akan masuk ke pasar telah cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Sarana ini telah disediakan di depan pintu masuk pasar.

Disperindag Sleman juga melakukan upaya peningkatan kualitas pedagang lewat program sekolah pasar. Yang salah satu kegiatannya berupa pengenalan teknologi informasi. Agar para pedagang tidak gagap teknologi, sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman. Khususnya pedagang lansia.

Strategi penjualan barang diarahkan secara online. Nah, terkait hal ini Disperindag telah meluncurkan “lopis.id”. Yakni layanan online pasar ing Sleman. Lopis.id merupakan akun media sosial Instagram sebagai wadah promosi barang dagangan di pasar tradisional. Sejauh ini tak kurang 22 pasar terdadtar di akun Instagram Lopis.id. Di lopis.id berisi daftar nomor telepon pedagang pasar-pasar tradisional Sleman. Lengkap dengan komoditas dagangannya. Seperti sembako, sayur mayur, daging, buah-buahan, pakaian, camilan, dan lain-lain.

Pola baru teknik penjualan modern ini memang sempat dikhawatirkan sebagian pedagang pasar. Jangan-jangan pasar menjadi sepi. Karena proses transaksi semuanya berbasis digital.

Pelan tapi pasti kekhawatiran pedagang pasar tradisional terpupus. Sebab, strategi penjualan online diarahkan untuk membidik segmen tertentu. Misalnya seorang Ibu yang memiliki anak balita, pekerja kantoran, sampai pengusaha yang repot, sehingga tak punya waktu belanja di pasar tradisional. Jadi, penjualan online tidak akan membuat pasar sepi. Tapi justru ada pangsa pasar baru.

Di sisi lain, strategi penjualan online tak mengikat pedagang. Sifatnya tidak wajib. Hanya pedagang yang siap dan bersedia menjual barang secara online difasilitasi lewat Lopis.id.

Promosi dan penjualan online juga telah dikembangkan melalui website. Untuk lebih memudahkan masyarakat saat belanja online.

Dengan kemajuan teknologi, para pedagang pasar diharapkan bisa mandiri dan memiliki daya saing yang kompetitif.

Penerapan strategi penjualan online menjadi salah satu parameter evaluasi Disperindag selama masa pandemi Covid-19. Selain itu pelaksanaan protokol kesehatan, cara pelayanan, serta kebersihan tempat dan penataan dagangan juga menjadi bahan penilaian pasar tradisonal. (*/eno/yog)

*) Kepala Disperindag Sleman

Sleman