RADAR JOGJA – Teka-teki tingginya pasien klaster perusahaan telekomunikasi di Sleman terungkap. Bupati Sleman Sri Purnomo mengungkapkan penyebabnya adalah tidak disiplin protokol kesehatan (prokes) Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Imbasnya, sebanyak 95 karyawan dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

SP, sapaannya, menyayangkan adanya kelalaian prokes Covid-19. Terlebih perusahaan telekomunikasi ini tergolong perusahaan besar. Terbukti jumlah karyawan mencapai ratusan. Artinya penerapan prokes sudah seharusnya tegas dan disiplin.

“Itu yang kemarin terjadi tidak disiplin masker. Sebanyak 90an karyawan positif (Covid-19) itu karena mereka tidak menerapkan protokol kesehatan,” sesalnya, ditemui di Kompleks Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Kamis (22/10).

Tak hanya masker, tim Satgas Covid-19 Sleman juga mendapatkan temuan lainnya. Para karyawan tak menjalankan jaga jarak saat bekerja. Ini karena penataan meja kursi antar karyawan terlalu dekat.

Pelanggaran ini tentunya menjadi catatan penting. Apalagi jumlah karyawan di perusahaan tersebut sangatlah masif. Dampak dari lemahnya prokes Covid-19 terlihat dari munculnya 95 kasus Covid-19.

Munculnya kasus ini turut menjadi evaluasi bagi jajarannya. Agar tak terjadi kasus serupa di dunia perkantoran. Langkah antisipasi berupa pemeriksaan secara rutin di setiap perkantoran di wilayah Kabupaten Sleman.

“Nanti dicek diam-diam, perusahaan berpegang teguh pada protokol kesehatan atau tidak. Pasti kami tegur dan berikan peringatan jika belum disiplin prokes,” tegasnya.

Munculnya klaster perusahaan turut menjadi perhatian Pemkot Jogja. Ini karena 15 karyawan tercatat sebagai warga domisili Kota Jogja. Lonjakan kasus tergolong tinggi dibandingkan kasus lainnya.

Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mengakui pertambahan kasus dari klater perusahaan telekomunikasi sangat signifikan. Berdasarkan catatan Satgas Covid-19 Kota Jogja, dalam kondisi normal hanya terjadi penambahan 3 hingga 5 kasus. Sementara untuk perusahaan langsung menyumbangkan 15 kasus.

“Catatan penambahan kasus tertinggi dari klaster itu (perusahaan telekomunikasi). Kami koordinasi dengan Pemkab Sleman dan provinsi karena kasusnya lintas wilayah,” ujarnya.

Kasus Covid-19 di lingkungan perkantoran sejatinya bukan hal baru. Kota Jogja sempat mengalami hal serupa. Hanya saja kemunculan kasus cenderung rendah.

Dia mencontohkan beberapa kasus yang muncul di organisasi perangkat daerah (OPD). Mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Komunikasi Informatika dan Sandi hingga Dinas Kebudayaan. Setidaknya kasus yang muncul tidak pernah lebih dari 3 kasus.

“Memang sempat muncul tapi tidak menyebar. Rata-rata tidak ada tambahan kasus baru dari kasus awal di wilayah kerja. Bisa jadi penerapan prokes di kantor sudah baik,” katanya.

Mitigas Covid-19 di wilayah perkantoran telah siap. Pasca munculnya kasus awal, langsung melakukan tracing. Diawali dari kontak erat ring 1, kontak erat ring 2 dan seterusnya.

“Tindakan medisnya mulai dari isolasi mandiri, lalu rapid tes hingga uji swab PCR kalau kontak erat ring 1. Kami lakukan secepat mungkin agar tak ada sebaran kasus,” ujarnya. (dwi/tif)

Sleman