RADAR JOGJA – Setelah adanya 8 kasus positif Covid-19 di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kapanewon Moyudan pada Senin (19/10), pengajar dari luar wilayah ponpes diminta untuk tidak mengajar sementara waktu.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten (Kemenag) Sleman Sa’ban Nuroni menjelaskan, hal tersebut dilakukan karena kasus positif pertama ditemukan dari pengajar yang telah melakukan perjalanan dari Klaten. “Dan memang mengajar disana,” jelas Sa’ban Rabu (21/10).

Dari monitoring yang dilakukan sebelumnya, lanjut Sa’ban, penerapan protokol di ponpes terkait sudah cukup ketat. Selain itu, para santri juga telah diedukasi untuk tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) oleh gugus tugas popes.

Saat ini, orang yang yang telah dinyatakan positif sudah dibawa ke asrama haji. Sedangkan santri dan pengajar lainnya yang mendapatkan hasil reaktif dari rapid test, saat ini tengah melakukan isolasi mandiri di ponpes. “Dan yang reaktif akan melakukan tes swab,” tambahnya.

Untuk mencegah penularan Covid-19 di lingkungan ponpes, Sa’ban mengaku pihaknya telah memanggil 19 pengelola ponpes yang sudah mendapatkan rekomendasi untuk melalukan pembelajaran tatap muka. Nantinya, Kemenag Sleman akan bekerjasama dengan gugus tugas untuk melakukan penilaian dan monitoring.

Untuk ponpes lainnya, total ada 50 yang telah mengajukan rekomendasi. Dari total keseluruhan 145 ponpes yang ada di Sleman. Ponpes yang belum mengajukan rekomendasi, dimungkinkan karena sarana dan prasarana belum memadai. “Tapi syarat dibolehkannya tatap muka bukan hanya sarpras. Bisa juga karena belum ada gugus tugasnya,” ungkap Sa’ban.

Sementara itu, Kepala UPT Puskesmas Moyudan Desi Arijadi menuturkan pihaknya bersama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman hingg Senin (19/10) telah melakukan rapid test kepada 300-an santri dan pengajar. 31 yang reaktif, kemudian dilakukan tes swab pada Rabu (21/10). Selain itu, ada enam orang tambahan yang juga akan melakukan tes swab. “6 orang mengaku mengalami gangguan penciuman. Jadi langsung tes swab, dan total yang swab ada 37 orang,” jelas Desi.

Hingga Rabu (21/10), total kasus positif di ponpes Moyudan sudah ada 10 orang. Terdiri dari 2 pengajar, 1 anak pengajar, dan 7 lainnya adalah santri. 8 orang saat ini sedang melakukan isolasi di asrama haji, dan dua orang lainnya sudah diperbolehkan pulang. Untuk selanjutnya, pada 3 November akan dilakukan skrining terhadap warga sekitar. Ditargetkan akan ada 300-an orang yang akan mengikuti rapid test. Dilakukan tes kepada warga, dikarenakan salah satu warga Sukolilo yang sering datang ke ponpes untuk mengurus makanan santri. (eno/bah)

Sleman