RADAR JOGJA – Pasca-amblesnya cross drain saluran air Selokan Mataram di Dusun Mayangan, Trihanggo, Gamping menyebabkan beberapa aktivitas masyarakat terganggu. Pemkab Sleman pun mulai melakukan pemetaan supaya hal serupa tak terulang.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Harda Kiswaya mengatakan, pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) terkait permsaalahan tersebut. Selain itu juga akan terus melakukan antisipai-antisipasi agar tidak terjadi hal yang sama di titik yang lain. Apalagi mengingat usia Selokan Mataram yang sudah lama. “Akan kami lakukan pemantauan dan inventarisasi terkait titik-titik yang rawan,” ungkapnya kemarin (19/10).

Menurut dia, kalau kerusakkannya sudah dipandang akan segera rusak dan perlu penanganan cepat secara sementara, maka akan segera dikolaborasikan antara dinas kabupaten dengan BBWSSO. “Kalau sifatnya bisa bertahan dalam satu musim, kami dengan BBWSSO sudah merencanakan atau mengusulkan untuk rehabilitasi secara keseluruhan,” jelas mantan Kepala BKAD Sleman itu.

Terkait kerusakan di Dusun Mayangan, BBWSSO sendiri menargetkan pekan depan, Senin (26/10) aliran air akan segera dinyalakan kembali. Menurut dia, secara teknis selama empat hari sudah selesai, namun secara fungsi masih harus ditinndaklanjuti. “Menjamin kualitas dan fungsi konstruksi selama seminggu dari selesainya perbaikan,” jelas akepala Bidang Pelaksana Jaringan Pemanfaatan Air BBWSSO Suyanto ditemui terpisah.

Terkait penyebab kebocoran tersebut, pihaknya dengan Pemkab Sleman juga masih akan mendalaminya. “Kami juga akan melakukan work out di sejumlah titik jalur Selokan Mataram untuk mengantisipasi hal serupa,” imbuhnya.

Sekretaris Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Sleman Rofiq Andriyanto mengatakan, akibat kerusakan Selokan Mataram dititik tersebut berdampak pada dua sektor. Yakni, pertanian dan perikanan.  Untuk sektor perikanan meliputi 17 kelompok dengan luas sekitar 12,55 hektar berupa kolam ikan. Dengan kerugian kurang lebih Rp 64,15 juta. Sedangkan, di sektor pertanian yang terdampak meliputu 232 kelompok tani, luasnya kurang lebih 3.350 hektar. “Untuk dampak secara rupiah, kami belum menghitungnya,” ungkapnya. (cr1/pra)

Sleman