RADAR JOGJA – Perbaikan cross drain Selokan Mataram ternyata tak bisa asal, sebab memiliki nilai sejarah tinggi. Saluran air yang Dibangun era Sri Sultan Hamengku Buwono IX ini merupakan salah satu strategi agar romusha pada jaman Jepang tidak dikirim ke luar Pulau Jawa.

Kepala BBWSO Jateng DIJ Dwi Purwantoro menuturkan Selokan Mataram bisa tergolong sebagai Cagar Budaya. Walau baru diusulkan, namun secara historis memiliki nilai kuat. Termasuk upaya mempertemukan aliran Sungai Progo dengan Sungai Opak.

“Saluran ini kan termasuk baru diusulkan untuk cagar budaya. Jadi bangunan ini ada dari jaman Belanda lalu Jepang,” jelasnya ditemui lokasi kerusakan cross drain Selokan Mataram Dusun Mayangan Trihanggo, Gamping, Sleman, Jumat (16/10).

Semenjak dibangun, Selokan Mataram belum pernah mengalami perbaikan besar selain pengerasan betonisasi 20 tahun lalu. Pada awalnya dasar dan dinding Selokan Mataram hanya berlapiskan tanah. 

Syarat cagar budaya terlihat dari susun konstruksi. Dwi menjelaskan, komposisi dasar dan dinding Selokan Mataram bukanlah beton pasir, melainkan gamping dan semen merah sebagai konstruksi bangunan.

“Susunan konstruksi itu hanya dipakai pada peninggalan jaman dulu. Sudah 45 tahun lebih belum pernah rehabilitasi. Kalaupun ada perbaikan itu hanya pelumasan pintu air dan pengecatan saja. Belum pernah sampai pengeringan total,” katanya.

Jajarannya menargetkan rehabilitasi total medio 2021 hingga 2022. Perbaikan akan dilakukan dengan penutupan total Selokan Mataram. Perbaikan dilakukan dari hulu hingga hilir aliran selokan.

Terkait anggaran, diperkirakan lebih dari Rp 100 miliar. Rencana perbaikan telah mendapatkan persetujuan dari pemerintah pusat. Pengajuan anggaran perbaikan telah dikirim 2 hingga 3 tahun lalu.

“Sudah dapat persetujuan dari Jakarta (pemerintah pusat) untuk perbaikannya. Kalau statusnya rencana usulkan cagar budaya. Karena ini bangunan jaman Belanda dan kasultanan,” ujarnya.

Walau konstruksinya berusia sepuh, namun Dwi menjamin kekuatan Selokan Mataram. Hingga saat ini, secara umum belum ada kerusakan besar. Satu-satunya kerusakan adalah putusnya saluran air di Babarsari saat Gempa Bantul 2006.

“Rusaknya cuma 2006 itu saja saat Gempa Bantul. Talang Babarsari itu putus. Kalau konstruksi masih bagus. Nah perbaikan besar besok rencananya juga pembersihan sedimen,” katanya.

Total bentangan Selokan Mataram mampu mengairi 5.154 hektar persawahan. Sementara untuk kawasan Sleman mengairi 3.350 hektar persawahan. Dengan total kelompok pertanian mencapai 232 kelompok.

Sementara untuk kelompok perikanan yang mengakses Selokan Mataram mencapai 260 kelompok. Terkait kerugian dia belum bisa memastikan secara pasti.

“Kalau yang ikan ada yang sudah siap panen ada yang masih kecil. Kalau petani tanaman pangan belum begitu banyak karena baru mau awal tanam. Tapi kalau pembudidaya ikan langsung terdampak,” kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman Heru Saptono. (dwi/tif)

Sleman