RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 belum berakhir, kini masyarakat juga harus waspada dengan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Apalagi sudah mulai turun hujan dan membuat genangan yang berpotensi berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Dulzaini mengatakan, kasus DBD saat ini meningkat dibanding tahun sebelumnya. Pada 2019, DBD di Sleman hingga Desember terdapat 728 kasus dengan data satu orang meninggal. “Di 2020 hingga Senin (12/10) kasus DBD terdiri 747 kasus, dua di antaranya meninggal dunia,” katanya Rabu (14/10).

Data Dinkes Sleman, pada Januari ada 93 kasus, Februari 109 kasus, Maret 135 kasus, April 116 kasus, Mei 133 kasus, Juni 82 kasus, Juli 38 kasus, Agustus 18 kasus, dan September ada 23 kasus. “Kasus tertinggi terjadi di Maret, yakni 135 kasus dan Juga Mei ada 133 kasus,” imbuh dia.

Menurut dia, kasus DBD terbanyak berada di kecamatan Prambanan dengan total kasus 113 orang. Kecamatan lain ada Gamping 101 kasus dan Mlati 103 kasus. “Sedangkan Cangkringan, zero kasus DBD,” lanjutnya.

Untuk itu, Dulzaini mengatakan saat musim hujan masyarakat harus lebih berhati-hati. Karena, di saat musim hujan keadaan atau kondisi lingkungan sangat mendukung sebagai tempat berkembangbiaknya jentik-jentik nyamuk.

“Masyarakat harus rajin membersihkan genangan air di sekitar rumah yang berpotensi sebagai tempat jentik-jentik nyamuk. Rajin mengecek dan lakukan pemberantasan sarang nyamuk. Selain itu, selalu menjaga lingkungan agar tetap bersih,” saran dia. (cr1/pra)

Sleman