RADAR JOGJA – Dinas Perhubungan DIJ berupaya mengantisipasi pelanggaran di lintasan sebidang tak berpalang pintu. Berdasarkan data, jalan pintas yang memotong jalur kereta api di DIJ masih cukup tinggi. Dari data tersebut data tertinggi ada wilayah Kabupaten Kulonprogo.

Kabid Keselamatan dan Teknologi Transportasi Dishub DIJ Didit Suranto menyebutkan ada 50 titik perlintasan ilegal di Kabupaten Kulonprogo. Mayoritas terletak di kawasan padat penduduk.

“Belum lama ini juga ada kecelakaan di Kulonprogo. Cukup tinggi, data yang terpantau ada 50 titik perlintasan ilegal dan tentu tak berpalang pintu,” jelasnya, ditemui di perlintasan sebidang bawah Jembatan Lempuyangan, Rabu (14/10).

Didit menyayangkan masih rendahnya kesadaran masyarakat. Jalan pintas melewati perlintasan kereta api sangatlah berbahaya. Sejatinya warga juga dilarang beraktivitas di wilayah perlintasan kereta api.

“Biasanya pertumbuhan perumahan yang baru lalu membikin jalan baru. Ini sudah salah, tapi warga beranggapan wajar karena mencari akses jalan,” ujarnya. 

Upaya preventif dilakukan dengan pemasangan early warning system (EWS). Alat ini akan memberi peringatan suara di perlintasan sebidang ilegal. 

Memanfaatkan sensor suara yang terpasang di sisi perlintasan kereta api.

Alat ini akan mendeteksi kedatangan kereta api dengan jarak 1.000 hingga 1.500 meter. Dalam jarak tersebut, otomatis EWS akan menyala. Memberikan peringatan suara kepada warga yang akan melintas.

Di satu sisi, Didit mengakui tindakan ini ilegal. Pemasangan berada di kawasan perlintasan kereta api. Tapi cara ini terpaksa ditempuh untuk menekan angka kecelakaan. 

“Sebenarnya kami salah tapi ini atas kemanusiaan. Upaya jangan sampai ada kecelakaan karena warga tetap nekat melintas,” katanya.

Untuk sementara pemasangan EWS baru di Kalitirto, Berbah, Sleman. Titik ini cukup rawan karena areanya menikung. Sehingga jarak pandang warga berkurang saat kereta api akan melintas.

“Fokus pemasangan, di perlintasan sebidang yang tidak dijaga dan tak ada palangnya. Kalitirto itu menikung dan riskan terjadi kecelakaan,” ujarnya.

Manajer Humas PT KAI Daop 6 Jogjakarta Eko Budiyanto memastikan sosialisasi perlintasan sebidang berlangsung kontinyu. Terlebih dalam waktu dekat akan beroperasi kereta api listrik (KRL) rute Jogjakarta-Solo. Artinya angka mobilitas kereta semakin tinggi.

Dia juga membeberkan angka kecelakaan dalam medio Oktober. Tercatat setidaknya terjadi 198 kecelakaan sejak awal Oktober. Angka ini merupakan akumulasi dari seluruh kecelakaan di Indonesia.

Mayoritas kecelakaan terjadi karena rendahnya kedisiplinan masyarakat. Dia mengingatkan adanya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Pasal 124 menyatakan pada perpotongan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api.

“KRL itu mesinnya halus dan tak seberisik kereta api diesel. Kalau lengah nanti kaget. Belum adanya rangkaian kereta api lainnya. Jogjakarta itu sudah dobel track, jadi perlintasannya cukup sibuk,” katanya.(dwi/tif)

Sleman