RADAR JOGJA – Pemerintah Kabupaten Sleman menambah 20 lubang makam di tempat pemakaman umum (TPU) khusus Covid-19 Madurejo, Prambanan. Sebelumnya, sudah ada 43 lubang makam. Hingga kemarin sebanyak 30 lubang yang telah terpakai.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman, Taupiq Wahyudi menjelaskan, penambahan 20 lubang diperuntukkan bagi jenazah positif Covid-19 asal dari luar daerah, yang tidak memungkinkan untuk segera dibawa kembali ke kampung halaman.

Bupati Sleman Sri Purnomo resmikan krematorium TPU Madurejo Prambanan (13/10).(ISTIMEWA)

Menurut Taupiq, pemakaman jenazah Covid-19 tidak boleh lebih dari 4 jam. ”Misalkan warga asal Surabaya, jika tidak memungkinkan untuk dilakukan pemakaman di kampung halamannya, bisa dimakamkan di Madurejo. Mengingat, masih ada warga yang menolak jika tidak ber-KTP Sleman dimakamkan di satu wilayah tertentu,” jelasnya.

Sedangkan untuk jenazah Covid-19 yang asli Sleman, saat ini warga sudah bisa menerima. Menurut Taupiq, dari 30 lubang makam yang sudah digunakan, 27 diantaranya untuk pemakaman standar Covid-19. Serta tujuh lainnya untuk pemakaman dengan kremasi. “30 sudah ada, tujuh kremasi, 23 dimakamkan dengan standar pemakaman Covid-19,” tambahnya.

Sementara itu, Krematorium TPU Madurejo Prambanan diresmikan oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo Selasa (13/10). Krematorium tersebut adalah hasil kerja sama antara Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan Pemkab Sleman.

SP menyebutkan, krematorium yangbada tergolong istimewa karena berada di komplek TPU. SP berharap, krematorium yang ada bisa mempermudah masyarakat Hindu di Kabupaten Sleman dan sekitarnya dalam melakukan prosesi kremasi sesuai ajaran agama dan kepercayaannya. “Bagi umat Hindu yang mampu mungkin bisa melakukan kremasi secara mandiri. Tapi bagi yang kurang mampu, mungkin nanti bisa dibantu melalui kerja sama antara PHDI dengan Dinas PUPKP Kabupaten Sleman,” kata SP.

Sementara Ketua PHDI Kabupaten Sleman, Anak Agung Alit Mertayasa, mengaku umat Hindu di DIJ khususnya di Kabupaten Sleman, masih meminjam fasilitas kremasi milik Kelompok Kematian Jogjakarta yang ada di daerah Pingit.

Bangunan krematorium yang ada saat ini, berdiri di atas lahan seluas 1000 meter persegi. Dengan kelengkapan bangunan utama, dua tungku pengabuan jenazah, bale pawedan, sanggah surya, tempat penyimbanan abu, dan kereta jenazah. “Ada pula bangunan peilinggih, gudang, toilet, 5 tabung gas elpiji ukuran 50 kilogram dan genset 5000 watt,” jelasnya. (eno/bah)

Sleman