RADAR JOGJA – Penantian umat Hindu di Jogjakarta untuk memiliki krematorium akhirnya terwujud. Setelah menanti cukup lama, Pemkab Sleman mendirikan sebuah krematorium di taman pemakaman umum (TPU) Madurejo Prambanan. Tentunya dengan melibatkan umat Hindu di Sleman.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten Sleman Anak Agung Alit Merthayasa menuturkan, sebelum ada krematorium TPU Madurejo prosesi kremasi masih menumpang krematorium milik warga di kawasan Pingit, Kota Jogja. Sayangnya fasilitas tersebut sedang mengalami pemugaran.

“Kami umat Hindu di Jogjakarta sudah cukup lama mengidam-idamkan dan menginginkan memiliki setidak-tidaknya dapat menggunakan trip krematorium secara lebih leluasa. Lalu Pemkab Sleman memfasilitasi dengan adanya TPU Madurejo,” jelasnya ditemui di kompleks TPU Madurejo, Selasa (13/10).

Pembangunan fasilitas krematorium ini juga untuk mewujudkan kerukunan umat lintas agama melalui donasi beragam kelompok masyarakat.

Pemkab Sleman, lanjutnya, memfasilitasi sebidang tanah TPU Madurejo Prambanan. Lahan inilah yang kemudian digunakan menjadi lokasi krematorium. Terdiri dari 2 pura peribadatan, 2 tempat krematorium dan fasilitas lainnya.

“Donatur tidak hanya umat Hindu ada saudara-saudara kami dari umat Kristiani ada juga yang dari muslim. Ini adalah wujud keindahan ,” katanya.

Dalam budaya Hindu Bali, prosesi kremasi diistilahkan upacara ngaben. Prosesi ini wajib dilaksanakan bagi semua umat Hindu yang telah meninggal dunia. Pelaksanaannya tak harus segera, tergantung kesiapan pihak keluarga.

“Ini adalah salah satu fase kehidupan. Jika tidak mampu saat itu juga bisa dikubur dahulu untuk kemudian dikremasi setelahnya. Maksimal lima tahun dari waktu meninggal dunia,” ujarnya.

Walau baru diresmikan, ternyata fasilitas ini sudah ada sejak 2017. Tercatat sudah sekitar 200 jenazah yang dikremasi di TPU Madurejo. Proses kremasi dilakukan sesuai ajaran agama Hindu yang berlaku.

Bupati Sleman Sri Purnomo mengapresiasi berdirinya krematorium TPU Madurejo. Walau berada di lahan milik pemerintah, namun inisiasi ini karena kepedulian donasi datang dari beragam umat beragama. 

“Kami pemerintah hanya menyediakan tanah tapi inisiasi tetap dari umat Hindu. Sangat kami apresiasi karena dalam swadaya ini ada kerjasama,” katanya.

Dalam kesempatan ini SP, sapaannya, meminta pengelolaan mengedepankan asas kemanusiaan. Termasuk membantu umat apabila ada yang tidak mampu. Tentunya dengan berkoordinasi dahulu dengan dinas terkait selaku pengeloka TPU Madurejo.

“(Krematorium) bisa mandiri tapi kalau mereka yang mungkin ekonominya kurang mampu nanti bisa dilaksanakan lima tahun sekali seperti di Bali. Bisa koordinasi dengan DPUKP sehingga pemakaman bisa berjalan dengan baik,” ujarnya. (dwi/tif)

Sleman