RADAR JOGJA – Bupati Sleman Sri Purnomo memastikan kapasitas taman pemakaman umum (TPU) Madurejo Prambanan memadai bagi jenazah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Luas wilayah ini mencapai 7 hektar. Ada pula fasilitas krematorium.

Berdasarkan catatan Satgas Covid-19 Sleman, sudah ada 30 jenazah dengan Covid-19 yang dimakamkan di Madurejo. Detilnya, 23 jenazah dimakamkan di liang kubur. Sedangkan sisanya atau 7 jenazah dengan kremasi.

“Kalau fungsi umumnya tetap sebagai TPU. Tapi memang bisa untuk memakamkan jenazah dengan Covid-19 dengan catatan tertentu,” jelasnya ditemui di TPU Madurejo Prambanan, Selasa (13/10).

Persyaratan khusus adalah adanya penolakan dari warga domisili jenazah,  domisili jenazah berjarak kurang lebih empat jam perjalanan dari Jogjakarta.

“Tidak masalah untuk pemakaman jenasah Covid-19. Tidak harus warga dari Sleman juga. Tentu tetap koordinasi dengan Satgas Covid-19 Sleman maupun provinsi,” katanya.

Kepala DPUKP Sleman Taupik Wahyudi menuturkan ada penambahan kapasitas pemakaman jenasah Covid-19. Tercatat saat ini sudah ada 43 lubang makam. Dari total tersebut sebanyak 23 lubang telah terisi.

Penambahan makam bertambah 20 lubang. Sehingga total makam yang tersedia saat ini mencapai 40 lubang. Seluruhnya bisa digunakan apabila ada permintaan pemakaman jenasah Covid-19.

“Kalau awal yang disiapkan itu 43 lubang, tapi setengahnya sudah terpakai. Ini tambah 20 lubang untuk jenasah dengan Covid-19,” ujarnya.

Keterlibatan DPUKP Sleman dalam pandemi Covid-19 baru berlangsung di tengah tahun 2020. Pada awalnya organisasi perangkat daerah (OPD) ini tak terlibat. Hingga akhirnya diputuskan bergabung sebagai penanganan dan penyiapan makam dan kremasi.

Keberadaan krematorium sendiri merupakan wujud hibah dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Sleman. Fungsinya juga untuk kremasi jenasah Covid-19. Walau begitu fungsi utama adalah kremasi secara adat bagi umat Hindu. 

Kebijakan pemakaman Covid-19 merupakan wujud evaluasi dan antisipasi. Terutama jika muncul penolakan dari warga asal domisili jenasah. Sebagai wujud menjaga kondusifitas di lingkungan masyarakat.

“Menampung jenazah-jenazah yang tidak ditampung oleh warga terutama warga non dari Sleman. Salah satunya adalah alasan medis. Jenazah itu wajib dimakamkan maksimal 4 jam setelah meninggal. Misal asalnya Surabaya, kan tidak mungkin dipaksakan berangkat,” katanya. (dwi/tif)

Sleman