RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 menuntut masyarakat menjalankan kebiasaan baru, termasuk salah satunya di lingkungan kampus. Direktur Pusat Kedokteran Tropis FK-KMK UGM Riris Andono Ahmad mengatakan, dunia kampus merupakan dunia yang mengharuskan interaksi antara mahaiswa dengan mahasiswa atau pun dengan dosen.

“Adanya Covid-19 BNPN telah memetakan beberapa risiko dan kampus merupakan tempat yang memiliki risiko besar sebagai tempat penularan. Meskipun secara ekologi tidak terlalu tinggi risikonya,”  katanya dalam webinar “Persiapan Adaptasi Kebiasaan Baru di Lingkungan Kampus” Kamis (8/10).

Dikatakan, beberapa waktu terakhir diberitakan di salah satu perguruan tinggi di Jakarta yang terjangkit Covid-19 sebanyak 225 mahasiwa. Ttidak dapat dipungkiri dunia kampus juga bisa menjadi tempat untuk penularan Covid-19, shingga diperlukan beberapa mitigasi untuk menanggulangi hal ini.

Ketua Tim Satgas Covid-19 UGM Rustamadji menyebutkan, Covid-19 di UGM didominasi penularan para civitas yang melakukan perjalanan dari luar kota, yakni Maret hingga September. Dengan adanya hal ini, kebijakan umum yang dilakukan adalah penutupan kampus dan proses belajar mengajar secara daring.

Pembukaan kampus sebagai tempat mengajar mengikuti perkembangan Covid-19 di Indonesia. “Pembukaan kampus sebagai tepat belajar mengajar harus hati-hati, karena proses infeksi di Indonesia juga berpengaruh di UGM. Meski sebagian besar mahasiswa UGM berasal dari Jateng dan DIJ, banyak juga yang berasal daru luar Jawa, bahkan termasuk zona merah,” katanya.

Beberapa upaya yang dilakukan UGM untuk mencegah penularan, antara lain, dengan melakukan pembelajaran secara daring. Namun pihaknya juga telah mempersiapkan skema jika nantinya kembali belajar di kampus.

“Semaksimal mungkin kegiatan luring dikurangi dengan memperkuat belajar daring, penerapan prokes, APD, dan sarana pendukung bagi peserta didik yang berpotensi tertular Covid-19,”  sebutnya.

Bagi pendidikan spesialis yang berpotensi berhubungan dengan penderita Covid-19, untuk lebih memperhatikan modifikasi lingkungan dan protokol kesehatan (prokes). “Jika terpaksa harus tatap muka, pelaksanaan prokes ditambah dengan pengaturan waktu tatap muka 30 sampai 120 menit, juga memperhitungkan kapasitas ruangan dan desinfeksi ruangan,”  tambahnya.

Sementara itu, peneliti Pusat Kedokteran Tropis UGM Citra Indriani menyebutkan, ada beberapa faktor pendukung percepatan penularan Covid-19 di lingkungan kampus. Di antaranya, karantina mahasiswa pendatang tidak dilakukan selama 14 hari, kelas tatap muka tidak didukung pelaksanaan prokes, kegiatan sosial di tempat kos tanpa prokes. Gejala dini tidak dilaporkan.

“Namun hal itu dapat dicegah dengan melakukan blok-blok tempat tinggal, sehingga membantu mencegah perluasan. Selain itu, kepatuhan individu terhadap prokes yang ada,” ungkap Citra.

Hal lain yang harus diperhatikan bagi petugas atau pengelola indekos atau asrama. Di antaranya, mendata anak kos yang masuk dan menyampaikan ke ketua RT, menerapkan prokes dan PHBS, dan melakukan karantina 14 hari. “Yang terpenting, pisahkan mahasiswa luar wilayah dengan penghuni kos lain. Pastikan juga saat datang tidak sedang dalam kondisi demam, batuk, atau pilek,” tegasnya. (cr1/laz)

Sleman