RADAR JOGJA – Sekolah dari rumah yang dilakukan di masa pandemi Covid-19 masih memiliki kendala. Salah satunya adalah tidak semua guru memiliki kapasitas membuat materi ajar yang mumpuni.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sleman Ery Widaryana menjelaskan, saat ini kemampuan guru untuk membuat materi belajar guna pembelajaran daring masih belum merata. Di Sleman, sebagi kecil guru yang menguasai teknologi masih tergolong rendah.

Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut dilakukan kegiagan kolegial guru.  Yakni dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan Kelompok Kerja Guru (KKG). Dari kegiatan tersebut, guru yang familiar dan menguasai teknologi informasi akan saling bertukar pikiran dan belajar. “Untuk bersama-sama membuat aplikasi pembelajaran,” jelas Ery Rabu (7/10).

Ery menyebut, hanya ada sekitar 5 persen dari jumlah total guru yang ada di Sleman yang mumpuni di bidang teknologi informasi. Hal ini dikarenakan oleb faktor usia guru yang sudah mendekati masa pensiun. Mengingat, pembelajaran berbasis teknologi di masa tersebut belum semaju seperti sekarang.

Selain dengan kegiatan kolegial, Disdik Sleman juga mengupayakan kemudahan sekolah dari rumah dengan adanya Sembada Belajar. Berisikan video-video pembelajaran yang bisa digunakan sebagai refrensi guru maupun siswa. “Dari video yang ada, penjelasan lebih rinci terkait materi pembelajaran bisa dilakukan saat belajar daring,” ungkapnya.

Untuk pembelajaran daring, lanjut Ery,  tercatat 85,71 persen jenjang SMP yang sudah menggelar oenbelajaran daring. Sedangkan 13 persen lainnya menerapkan pembelajaran campuran berupa daring dan luring untuk pengambilan maupun pengumpulan tugas. “Serta 0,5 persen saja yang menerapkan luring seluruhnya di wilayah Sleman yang belum tercover sinyal internet,” kata Ery.

Kendala lainnya, adalah ketersediaan kuota internet untuk pembelajaran daring. Mengatasi hal tersebut, pemerintah pusat juga sudah memberikan bantuan kuota pulsa internet bagi siswa melalui program BOS. 85,71 persen dana BOS sudah dialokasikan untuk bantuan siswa. Yang mana kuota langsung diberikan pada nomor yang telah didata dan diajukan sekolah. (eno/bah)

Sleman