RADAR JOGJA – Gelombang aksi penolakan Undang Undang Cipta Kerja terus terjadi di Jogjakarta. Kali ini pusat aksi berlangsung di simpang tiga Utara kampus UIN Sunan Kalijaga. Terlihat puluhan peserta aksi memadati ruas jalan ini sejak pukul 17.00.

Mengatasnamakan Aliansi Seruan Mahasiswa Bersatu, aksi tetap meneriakan tuntutan pencabutan UU Cipta Kerja atau Omnibus Law. Alasannya poin-poin dalam perundang-undangan tersebut merugikan kaum buruh dan petani. 

“Omnibus law harus segara dicabut, karena ini merugikan bagi kelas buruh, petani dan di sektor pendidikan. Tidak ada negosiasi politik,” tegas koordinator aksi Aliansi Seruan Mahasiswa Bersatu Prabutapa, Rabu (7/10).

Dia menegaskan tuntutan dari aksi sudah final. Sehingga sudah tak ada lagi negosiasi terhadap kebijakan tersebut. Ini peserta aksi menganggap poin-poin dalam UU Cipta Kerja cacat.

“Kami sudah melakukan konsolidasi (pemerintah dan legislatif) memang sudah tidak bisa dipercaya oleh rakyat. Khususnya oleh buruh, petani, kaum miskin kota dan mahasiswa itu sendiri,” klaimnya.

Tak hanya pemerintah, pihaknya juga akan mendesak DPR. Untuk segera mencabut UU Cipta Kerja. Setidaknya berkaca pada dampak jangka panjang kepada buruh dan petani.

Prabu turut menjelaskan beberapa detil dampak negatif UU Cipta Kerja. Mulai dari hilangnya hak para buruh hingga kejelasan karyawan outsourcing. Ada pula dampak pada eksploitasi sumber daya alam pertambangan.

“UU cilaka ini justru membuat semakin parah.  Perusahan tambang beroperasi sampai 90 tahun hingga sumber daya alam habis. Harus cabut, tidak ada negosiasi sampai menang,” katanya.

Selama aksi berlangsung tak ada pengalihan arus lalulintas. Kendaraan bermotor tetap bisa melintas dari sisi timur, barat maupun selatan. Terlihat personel kepolisian menjaga dan mengamankan jalannya aksi. (dwi/tif)

Sleman