RADAR JOGJA – Jajaran Satreskrim Polres Sleman berhasil menangkap pelaku tindak pidana pemalsuan uang, TSJ, 30, pria asal Banguntapan, Bantul. Modus pelaku adalah membuat uang palsu untuk mencari keuntungan.

Waka Polres Sleman Kompol M. Kasim Akbar Bantilan mengatakan, berdasarakan penyelidikan, pelaku memberikan uang abal-abalnya kepada saksi, yakni teman pelaku. “Kemudian, oleh teman pelaku digunakan untuk beli minuman di salah satu toko di daerah Gejayan pada Selasa (22/9) sekitar pukul 22.30 malam,” jelasnya, Kamis (30/9).

Teman pelaku tersebut membeli minuman dengan menggunakan uang palsu Rp 100 ribu. Terdiri dari dua lembar pecaran Rp 50 ribu. “Si pemilik toko tidak menyadari hal tersebut. Kemudian, untuk kedua kalinya teman pelaku membelanjakan uang terebeut untuk membeli minuman menggunakan uang palsu Rp 150 ribu terdiri dari tiga lembar Rp 50 ribu dan ketahuan,” jelas dia.

Kemudian, pemilik toko mengamankan dan melaporkannya ke pihak kepolisian. Setelah dilakukan intrograsi, teman pelaku mengaku bahwa dia mendapat uang palsu dan menyuruh membeli minuman, yaitu TSJ teman kerjanya di salah satu wisma di Jalan Kaliurang.

“Teman pelaku ini atau saksi mengaku bahwa dia tidak diberi tahu jika itu adalah uang palsu,” sebutnya.

Dijelaskan, TSJ membuat uang palsu tersebut dengan cara mem-fotocopy uang asli dengan menggunakan printer, kertas yang digunakan adalah kertas biasa yakni HVS 80 gram. “Pelaku berhasil kamu amankan pada Rabu (23/9) di tempat kerjanya dan selanjutnya kami lakukan penahanan pada Kamis (24/9) di Rutan Polres Sleman,” ungkap Akbar.

Akibat perbuatannya dan barang bukti yang didapat tersebut pelaku terjerat pasal 244 KUHP Jo Pasal 36 UU RI No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. “Dan, diancam dengan pidana 15 tahun dan 10 tahun penjara,” tegas dia.

Untuk mengungkap kasus tersebut, pihak kepolisian juga berkoordinasi dengan pihak BI (Bank Indonesia) DIJ. Turut hadir pula dalam gelar perkara tersebut Kepala Seksi Pengelolaan Uang Rupiah Kantor Perwakilan BI DIJ yang mengatakan, jika uang yang ditunjukkan memang benar uang palsu. “Setelah kami cek, sebenarnya tanpa kami cek secara lebih dalam dengan dilihat saja sudah jelas perbedaannya. Terlihat bahwa itu adalah uang palsu,” jelasnya.

Dilanjutkan, dari spesifikasinya saja sudah sangat berbeda. “Di sini (menunjuk uang palsu) nomor serinya sama semua. Kalau uang asli, dalam edisi dan hari yang sama nomor serinya akan berbeda-beda, sedangkan ini sama,” imbuh dia.

Untuk itu, dia berpesan kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati dan waspada terhadap uang yang dimiliki. Masyarakat harus lebih teliti, paling tidak menerapkan 3D. Yakni, dilihat, diraba, diterawang. (cr1/pra)

Sleman