RADAR JOGJA – Daur Hidup dalam Tembang adalah tema yang diangkat dalam lokakarya pranatacara yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan DIY. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari dan diikuti sekitar 130 peserta tersebut merupakan kali pertama digelar.

Tembang Jawa macapat melambangkan perjalanan hidup manusia yang disebut daur hidup. Tema itu diangkat mengingat filosofi adiluhung mulai tergerus seiring dengan berkembangnya waktu.

“Kami ingin mengangkat tema terutama yang berkaitan dengan daur hidup. Daur hidup dari pralahir, lahir, menikah, sampai meninggal. Ini akan dikemas di beberapa workshop yang selama lima hari ini,” kata Eni.

Naskah daur hidup ini disarikembangkan dari buku Daur Hidup yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kabupaten Sleman.

Kepala Seksi Adat dan Tradisi Dinas Kebudayaan DIY Siswati menjelaskan, tembang Jawa macapat melambangkan perjalanan hidup manusia yang disebut daur hidup. Dalam konsep konstelasi Jawa, daur hidup disebut dengan cakra manggilinganing urip.

Tembang Jawa dari Mijil hingga Pocung merupakan simbolisasi perjalanan hidup manusia. Sedangkan alam perjalanan hidup manusia mengalami 4M yakni Meteng, Metu, Manten, Mati. Manusia dikatakan sempurna dalam menjalani fase kehidupan apabila merambah empat dunia. Yakni, jagad loka brata, jagad loka pana, jagad loka madya, dan jagad loka baka.

Banyak ajaran filosofi dalam kearifan lokal daur hidup manusia meteng, metu, manten, mati, dan tembang Jawa. Inilah kekayaan kearifan lokal yang adilihung yang perlu dilestarikembangkan. Sejalan dengan amanah UU Nomor 5 Tahun 2017.

“Bahkan, sekarang berbagai upacara adat yang menyertainya telah menjadi ajang wirausaha profesional,” katanya. (tor/amd)

Sleman