RADAR JOGJA – Munculnya kasus terkonfirmasi positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di pondok pesantren menjadi perhatian lebih bagi Satgas Covid-19 Sleman. Evaluasi akan dilakukan atas penerapan sistem kegiatan belajar mengajar. Khususnya implementasi protokol kesehatan.

Dari hasil pelacakan, berawal dari santri yang melakukan perjalanan dari luar DIJ. Walau telah dilakukan pemeriksaan kesehatan namun tetap lolos. Gejala baru muncul setelah santri telah masuk asrama ponpes.

“Baru kasus awal itu dari perjalanan kemudian datang ke ponpes dan menularkan kepada warga didalamnya atau menularkan kepada yang santri lain,” jelas Kadinkes Sleman Joko Hastaryo, Rabu sore (30/9).

Evaluasi tercepat adalah video conference dengan peserta pengurus ponpes. Khususnya yang telah mendapatkan izin pembelajaran tatap muka dari Satgas Covid-19 Sleman. Berupa penekanan protokol kesehatan Covid-19 dan resiko munculnya kasus.

Pihaknya juga akan mensosialisasikan kembali gejala Covid-19. Untuk gejala ringan berupa demam, radang tenggoroka, bersin dan flu. Untuk gejala sedang adalah hilangnya Indra penciuman dan pengecapan. 

“Kalau ada sesak nafas maka sudah gejala berat. Untuk kasus yang di ponpes itu gejala sedang karena Indra penciuman dan pengecapan hilang,” katanya.

Mantan Direktur Utama RSUD Sleman ini mengakui ada celah dalam sosialisasi gejala. Salah satunya adalah hilangnya penciuman dan pengecapan. Hingga akhirnya beberapa gejala Covid-19 belum dipahami. Padahal beberapa pasien telah menunjukkan gejala yang sama. 

“Ini yang mungkin belum tersosialisasi. Kami mengapresiasi dokter klinik di ponpes karena sigap tahu ada gejala yang sama. Lalu curiga ke arah covid dan benar saat diperiksa hasilnya positif Covid-19,” ujarnya.

Terkait perizinan operasional, Joko memastikan ketat. Terbukti tidak semua pengajuan operasional ponpes diberikan. Dari total 145 ponpes ada 60 yang telah mengajukan ijin operasional. Sementara yang telah mendapatkan lampu hijau baru 25 ponpes.

Pemberian izin bukan tanpa kajian mendalam. Satgas Covid-19 Sleman tetap melakukan pemantauan lapangan. Tujuan utama memastikan protokol Covid-19 berlaku ketat dan disiplin.

Joko mencontohkan adanya surat bebas Covid-19. Berlaku apabila santri berasal dari daerah merah episentrum Covid-19. Setibanya di ponpes juga melakukan karantina selama 14 hari. Hingga akhirnya dinyatakan benar-benar sehat dari Covid-19.

“Ponpes di Ngaglik itu sudah tertib karena ada ruang karantina terpisah. Tapi kenyataan tetap muncul kasus sehingga akan kami kaji lagi,” katanya.

Joko juga mengingatkan adanya kesepakatan dalam audiensi dengan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X. Apabila muncul kasus, maka pengurus ponpes harus menutup kegiatan. Selain protokol Covid-19 juga diimbangi dengan keberadaan Satgas Covid-19 Ponpes.

“Terlepas dari itu kami akan menggiatkan screening di ponpes lagi. Kemarin sempat bareng dengan tracing tenaga kesehatan. Ini akan kami jadwal ulang lagi. Awal Oktober ini selain ke nakes juga arahkan ke pondok tapi sifatnya sampling tidak massal,” ujarnya. (dwi/tif)

Sleman