RADAR JOGJA – Sekretaris Daerah Pemkab Sleman Harda Kiswaya meminta pengurus pondok pesantren mengevaluasi protokol Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dengan pengetatan dan pendisiplinan protokol. Imbauan ini untuk menanggapi munculnya 47 kasus Covid-19 di dua pondok pesantren di Kabupaten Sleman.

Terhadap dua ponpes, Harda memastikan masing-masing ponpes menerapkan pembatasan jumlah santri di tiap ruangan.

“Tempat tidur sudah disilang-silang lalu mendisiplinkan diri itu kuncinya. Saya yakin ponpes ini akan lebih disiplin karena munculnya kasus jadi pelajaran yang lebih baik,” jelasnya, ditemui di ruang kerjanya, Selasa sore (29/9).

Menurut Harda kebijakan menutup ponpes bukan perkara mudah. Sebab santri mayoritas berasal dari luar daerah. Tak hanya luar DIJ tapi juga luar Pulau Jawa.

“Kalau ditutup nanti dulu, santrinya itu dari Sabang sampai Merauke, ini jadi pertimbangan. Akhirnya dipilih untuk penghentian kegiatan sementara untuk disinfeksi,” katanya.

Berdasarkan hasil monitoring, para pengurus ponpes telah memisahkan para santrinya. Baik yang terkonfirmasi positif Covid-19 maupun tidak. Bahkan ada gedung khusus bagi pasien simtomatik dan asimptomatik.

Harda juga meminta satgas Covid-19 Ponpes mengawasi secara tegas protokol yang berlaku. Tak hanya saat proses KBM tapi juga saat berada di pondok masing-masing.

“Tadi kami sempat lihat di lorong-lorong masih belajar. Tapi ini sudah dipisah. Untuk KBM tadi kami belum tanya karena konsentrasi kami penanganan kasusnya. Termasuk persediaan obat dan masker kami tanyakan semua,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo meminta agar semua pihak tanggap. Diakui olehnya penerapan protokol di ponpes masih ada kendala. Berbeda dengan penerapan prokotol di sekolah reguler. Ini karena seluruh santri hidup di dalam asrama. Alhasil kontak erat bisa terjadi setiap waktu.

“Protokol masih kendala, itulah mengapa sekolah dengan asrama kami prioritaskan. Kalau ada gejala walau ringan harus periksa. Di ponpes itu ada pose kesehatan pesantren. Nanti tindakan medisnya berkoordinasi dengan Puskemas setempat,” katanya. (dwi/tif)

Sleman