RADAR JOGJA –  Pasangan calon bupati dan wakil bupati Sleman nomor urut 1 Danang Wicaksana Sulistya-Raden Agus Choliq (DWS-ACH) sowan ke Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (28/9).

Didampingi sejumlah pengasuh ponpes dari Mlangi, Gamping, Sleman, DWS-ACH silaturahmi dan memohon doa restu dari K.H. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf). “Nggih, saya doakan mas, titip NU (Nahdlatul Ulama) dan wong cilik di Sleman,” pesan Gus Yusuf kepada dua tokoh muda Sleman itu.

Selain restu, kiai muda yang juga ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Tengah itu menyampaikan saran kepada DWS dan ACH dalam menjalani kontestasi Pilkada Sleman 2020. Agar keduanya menjalani prosesi pemilihan dengan ikhlas. Dan tetap menjadikan rakyat Sleman sebagai pertimbangan dalam menyusun program.

Gus Yusuf menegaskan, rakyat tetap harus menjadi prioritas dalam pembangunan. Tidak hanya dijadikan penonton. Gus Yusuf juga memberikan wejangan terkait program-program pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, dan lainnya kepada DWS-ACH.

Dalam kesempatan itu, Gus Yusuf mengaku bersyukur, dalam hajatan politik tahun ini NU dan PKB serta PPP Sleman mampu membulatkan sikap. Mengusung kader internal yang bergandengan dengan Gerindra. Membentuk koalisi yang religious-nasionalis. “Koalisi ini adalah bagian dari komitmen membawa bangsa yang majemuk ke arah yang lebih baik,” ungkap penulis buku Fiqih Sosial dan Praktis Dari Pesantren : Dari Hukum Makelar Hingga Sumpah Pocong itu.

Tak lupa, Gus Yusuf berpesan kepada DWS-ACH untuk selalu waspada pada persebaran Covid-19. Menurutnya, setiap calon kepala daerah harus mendukung segala upaya pemerintah pusat dalam penanganan pandemic Covid-19. “Protokol kesehatan harus diperhatikan, Mas. Jangan sampai ada kegiatan yang menimbulkan klaster baru,” pesan pengasuh pondok pesantren yang pernah menjadi tempat menimba ilmu Presiden Ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tersebut.

JEMPOL: Danang Wicaksana Sulistya (kiri) bersama Gus Yusuf dan R. Agus Choliq.

Di mata Gus Yusuf, DWS-ACH menghadapi medan tempur yang cukup unik dalam Pilkada Sleman 2020. Meskipun tidak secara langsung, pasangan yang diusung Koalisi Gerbang Persatuan itu seperti dikeroyok petahana. “Harus waspada, karena petahana ini punya semua perangkat untuk menekan,” ingatnya.

Gus Yusuf menyebut, dari pengalaman PKB di sejumlah wilayah, beberapa petahana memanfaatkan pandemi untuk membatasi langkah lawan. Akses kandidat non petahana kerap menghadapi bermacam hambatan. Terutama saat akan kampanye. “Misalnya, wilayah basis pendukung ‘dizona merahkan’. Bahkan ada calon yang dikarantina dan tidak dapat kampanye. Pandemi ini rawan dijadikan alat politik, jadi hati-hati,” katanya serius.(*)

Sleman