RADAR JOGJA – Jaga jarak menjadi salah satu cara menekan kenaikan pandemi Covid-19. Namun sayang, tidak semua masyarakat menjalankan penerapan protokol kesehatan tersebut. Siswa SMP Muhammadiyah 3 Depok Sleman, Dimas Afif Ardian menciptakan alat pengingat untuk tetap melakukan physical distancing.

JIHAN ARON VAHERA, Sleman, Radar Jogja

Alat yang diciptakan Dimas bernama Phidis akronim dari (physical distancing) Belt atau ikat pinggang physical distancing. Alat itu diciptakan dengan bantuan dan pendampingan dari pembimbingnya. Alat tersebut sudah dilombakan di event Ki Hajar STEM 2020 yang dibuat oleh Kementrian Pendidikan Kebudayaan RI. Dari sekitar 30 ribu anak SMP di seluruh Indonesia yang ikut, bisa menjadi 80 besar.

ISTIMEWA

”Masyarakat belum terbiasa atau kadang lupa,” kata remaja berusia 13 tahun itu Senin (28/9).

Berangkat dari persoalan tersebut, dia menginovasikan sebuah alat yang dapat digunakan sebagai alarm atau pengingat ketika sedang berada di sebuah kerumunan. Phidis belt tersebut mempunyai sensor alarm. Jika terdapat benda berjarak satu 1 meter sampai 1,5 meter dari orang yang memakai ikat pinggang tersebut, maka bel tersebut akan berbunyi ”Diingatkan dengan bunyi maaf silakan jaga jarak,” ucapnya.

Siswa yang duduk di bangku kelas 8 SMP ini menyebutkan, untuk membuat alat tersebut ada beberapa bahan yang harus disiapkan. Di antaranya, sensor ultrasonik HC-SR04 sebagai penerima stimulus pantulan bunyi, arduino nano sebagai pemroses data, baterai 18650 yang biasa digunakan untuk senter sebagai sumber tenaga, DVD player atau MP3 sebagai sumber bunyi, MicroSD sebagai penyimpan memori, speaker sebagai pengeras bunyi, dan kabel konektor sebagai penghubung antarkomponen.

”Phidis Belt ini merupakan alat portable dan bisa digunakan oleh siapapun dan semua usia,” jelasnya.

Sementara, Pembimbing sekaligus Guru IPA dan Kesiswaan SMP Muhammadiyah 3 Depok Ary Gunawan mengatakan, ide tersebut tercetus karena  melihat kondisi Covid-19 saat ini. Awalnya, tercipta handsanitizer otomatis yang menggunakan sensor tangan. “Ternyata itu dimana-mana sudah banyak. Melihat dari konsep sensornya, kemudian kami berpikir sepertinya bisa dibuat alat lain. Maka tercetus ide itu, karena melihat sekarang banyak yang berkerumun, agar ada yang mengingatkan,” sambungnya.

Untuk lama pembuatan, alat tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama. “Tidak lebih dari satu hari, karena alat yang digunakan juga open sourse bisa dibeli di pasaran,” jelasnya.

Dikatakan, karena sensor ultrasonik sifatnya memantulkan bunyi, jika ada benda yang bukan manusia di area satu meter sampai 1,5 meter maka akan tetap memantulkan sensor. “Kalau buat jalan di lorong, alat itu akan bunyi terus. Kemudian, kami buat solusinya yaitu kami buat on/off,” terangnya. (bah)

Sleman