RADAR JOGJA – Bupati Sleman Sri Purnomo memastikan rusunawa masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) Gemawang sifatnya kondisional. Bangunan ini akan diungsikan sebagai shelter pasien terkonfirmasi positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) asimptomatik apabila Asrama Haji penuh.

Kondisi asrama haji, lanjutnya, masih memadai. Dari total 138 kamar tersedia baru sekitar 60an kamar terpakai. Pemakaian harian cenderung fluktuatif. Faktor utama adalah kesembuhan setiap pasien asimptomatik.

“Shelter Gemawang akan kami pakai ketika memang asrama haji penuh tapi kalau masih bisa gunakan maka maksimalkan asrama haji. (Shelter Gemawang) ini second opinion kalau (asrama haji) sudah tidak menampung,” jelasnya ditemui di rumah dinas Bupati Sleman, Selasa (29/9).

Pada pembahasan, pemanfaatan shelter Gemawang berdasarkan evaluasi rutin. Syarat utama apabila kapasitas asrama haji telah mencapai 80 persen. Sehingga sudah tak ideal sebagai isolasi mandiri bagi pasien positif asimptomatik.

Aktivasi shelter Gemawang berawal dari meningkatnya kasus positif asimptomatik di Sleman. Salah satu penyebabnya diduga belum optimalnya isolasi mandiri di rumah. Ada dugaan terjadi penularan di lingkungan keluarga dan interaksi sosial.

“Di revisi V Permenkes memang disebutkan isolasi mandiri bisa di rumah. Tapi kami optimalkan di asrama haji agar pengawasan optimal. Lalu muncul Gemawang sebagai opsi kalau asrama haji penuh,” katanya.

Keberadaan shelter ini bukan berarti berjalan mulus. Warga sekitar sempat melakukan penolakan. Tepatnya saat rusunawa ini dijadikan shelter karantina bagi pelaku perjalanan jauh. Tepatnya medio Maret hingga April.

Guna mengantisipasi, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi. Memberikan penjelasan bahwa isolasi aman bagi warga sekitar. Ini karena aktivititas pasien hanya sebatas di ruang isolasi.

SP, sapaannya, memahami adanya keresahan warga. Terlebih shelter Gemawang memang berada di tengah hunian padat. Walau begitu penerapan protokol Covid-19 akan berlaku sangat ketat.

“Mereka (pasien) tidak keluar dan tetap ikut protap. Seperti di asrama haji tidak ada yang bebas jalan-jalan. Semua ikut prosedur dan protokol satgas covid kabupaten,” ujarnya.

Kepala Dinas Sosial Sleman Eko Suhargono memastikan logistik terpenuhi. Pelayanan tak ubahnya aktivasi asrama haji. Tentunya kapasitas disesuaikan dengan jumlah penghuni yang masuk shelter Gemawang.

Tak hanya pasien, keluarga juga mendapatkan jatah hidup. Dengan syarat menjalani karantina di kediamannya masing-masing. Sehingga pemerintah akan memberikan logistik selama waktu karantina atau isolasi diri.

“Melalui pemdes yang diajukan ke dinsos. Bantuan selama satu periode tahapan pengobatan atau karantina selama 14 hari,” katanya.

Jatah hidup per orang terdiri dari beragam kebutuhan pokok. Utamanya adalah berada seberat 4 ons untuk setiap pasien. Adapula minyak goreng, mie instan, gula, teh dan beragam kebutuhan pokok lainnya.

Pemberian jatah hidup dengan harapan isolasi dan karantina berjalan optimal. Agar pasien maupun kontak erat tak bermobilisasi. Terlebih jika masih dalam masa 14 hari inkubasi.

“Dinsos hingga saat ini, khusus untuk Covid-19 seudah mengucurkan Rp 12 miliar. Ini masuknya dianggaran tak terduga,” ujarnya. (dwi/ila)

Sleman