RADAR JOGJA – Empat makam di wilayah Kalurahan Tirtoadi, Mlati, akan terkena dampak pembangunan tol Jogja-Solo, Jogja-Bawen dan Jogja-Cilacap. Saat ini, pihak pemerintah desa masih mencarikan tanah pengganti untuk makam terdampak.

Lurah Tirtoadi Sabari menjelaskan, dari keempat makam yang terdampak, beberapa di antaranya berstatus Sultan Ground (SG). Yang mana nantinya proses pemanfaatan akan menunggu kebijakan dari Keraton Jogja. “Kalau makam yang SG, kembali ke Sultan juga seperti apa,” jelas Sabari di sela-sela konsultasi publik Senin (28/9).

Sedangkan untuk makam yang bukan berstatus SG, akan tetap dicarikan tanah pengganti. Meskipun demikian, pihak pemerintah desa juga masih menunggu kesepakatan warga setempat. “Sedangkan untuk relokasi dikembalikan ke tim saja,” tambahnya.

Sedangkan untuk warga terdampak, Sabari mengatakan masyarakat diminta mencari tanah pengganti dan melakukan relokasi sendiri. Relokasi mandiri menjadi pilihan pemerintah kalurahan agar tidak ada pandangan negatif terhadap dirinya selaku lurah setempat. “Jika nanti pihak kalurahan yang mencarikan, dikira mau ambil untung,” katanya.

Menjadi salah satu warga terdampak, saat ini Sabari sudah mulai membangun rumah penggantinya. Di lahan milik pribadinya, ia mengaku masih akan menempati Kalurahan Tirtoadi. “Sudah saya cicil bangun, biar nanti tidak bingung saat harus pindah,” ungkapnya.

Menurut Sabari, ada 277 bidang yang akan terdampak pembangunan tol Jogja-Bawen. Kurang lebih kepala keluarga (KK) yang terdampak, berjumlah 240 orang dari Padukuhan Sanggrahan, Pundong 1, Pundong 2, Pundong 3, dan Pundong 4. Dibagi menjadi dua sesi setiap harinya, konsultasi publik pembangunan tol Jogja-Bawen akan berlangsung hingga hari ini (29/9).

Sementara untuk pembangunan tol Jogja-Solo, ada 561 bidang tanah yang terdampak di Tirtoadi. “Sedangkan Jogja-Cilacap belum tahu pasti jumlah warga terdampak. Hanya untuk konsultasi publik Jogja-Bawen, warga terdampak sudah rela,” jelasnya.

Salah satu warga Jembangan Sudiran mengaku rela tanah persawahan miliknya digunakan untuk pembangunan tol. Dengan luas 441 meter persegi, menurutnya, akan lebih menguntungkan dengan adanya ganti untung. Hal ini karena lahan sawah miliknya, hanya bisa dipanen sekali dalam satu tahun. “Karena pengairan yang susah, letak sawah di dekat perumahan,” katanya.

Sudiran mengaku ia juga masih memiliki lahan persawahan lain dengan luas sekitar 1.200 meter persegi. Ia yakin pengairan yang didapatkan dari Selokan Mataram masih bisa menggunakan lahan untuk mencukupi kebutuhan pangannya. “Jadi untuk lahan yang terdampak, lebih baik ganti untung saja. Nanti uangnya bisa digunakan untuk usaha lain,” ungkapnya. (eno/laz)

Sleman