SLEMAN, Radar Jogja– Ketimpangan ekonomi antarwilayah di DIJ menjadi keprihatinan Danang Wicaksana Sulistya (DWS). Menurutnya, hal itu terjadi lantaran ketidakseimbangan pembangunan wilayah perkotaan dan pedesaan. Serta gaya hidup masyarakat setempat. Juga akibat lemahnya manajemen pertumbuhan ekonomi.

Calon bupati Sleman nomor urut 1 itu khawatir jika kondisi tersebut terus dibiarkan bisa menjadi ancaman terhadap masa depan ketahanan pangan di Sleman. Sekaligus mengancam kedudukan Sleman sebagai kota pendidikan, kota pariwisata, dan kota budaya. Kondisi ini diperparah pandemi Covid-19 yang memukul sebagian besar sektor ekonomi masyarakat. “Makanya ke depan harus ada perubahan baru yang lebih baik di segala lini kehidupan masyarakat,” ujarnya kemarin (28/9).

Berpasangan dengan Agus Choliq (ACH), DWS optimistis. Mengembalikan marwah Sleman sebagai kabupaten yang makmur, merata, dan sejahtera adalah sebuah keniscayaan. Karena Sleman memiliki potensi sumber daya alam, manusia, dan peluang di masa depan.

Mengemban misi “Nyawiji Nyembadani” pasangan DWS-ACH bertekad mewujudkan masyarakat Sleman yang lebih sejahtera dan mandiri. Mandiri dalam menghasilkan, memproduksi, mengelola dan memanfaatkan potensi yang ada untuk mencukupi kebutuhan sendiri. “Itu maknanya kemampuan (pemerintah daerah, Red) mengelola potensi sumber daya yang ada. Guna memenuhi kebutuhan serta digunakan untuk sebesar-besarnya kepentingan masyarakat,” jelas sosok kelahiran 4 Januari 1979 itu.

Menurut DWS, kemandirian ekonomi suatu daerah akan tercipta jika dikelola dengan kepemimpinan yang mampu merangkai potensi daerah dan sumber daya lokal. Sekalipun dengan kemampuan keuangan yang terbatas.

Nah, untuk mencapai kemandirian ekonomi ada beberapa langkah yang harus ditempuh. Misalnya pemulihan ekonomi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat secara produktif dan konstruktif. Lalu memperkuat sektor pertanian dan ekonomi pedesaan guna mendongkrak ketahanan pangan.

Selain itu meningkatkan dan memperkuat sektor pertanian, usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal. “Tak kalah penting, upaya meningkatkan kemitraan produktif pada sektor UMKM dan ekonomi kreatif dengan korporasi secara mandiri,” ungkap calon bupati Sleman yang diusung Koalisi Gerbang Persatuan (Partai Gerindra, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Persatuan Pembangunan).

Bicara sektor ekonomi kreatif, ACH sudah membuktikannya. Salah satunya pengembangan wisata alternatif berbasis BUMDes. Seperti Puri Mataram, di Kalurahan Tridadi, Sleman, yang dikelola oleh pria kelahiran Sleman, 14 April 1973.

Oleh kader muda Nahdlatul Ulama (NU) itu, pandemi Covid-19 pun bisa dikelola menjadi sebuah peluang usaha yang menjanjikan. Dengan menciptakan wastafel injak portabel. Orang yang cuci tangan di wastafel tersebut tidak perlu menyentuh keran atau botol sabun. Air dan sabun akan mengalir cukup dengan menginjak pedal di bagian kaki.

Selama dua bulan pertama tak kurang 350 unit wastafel kreatif seharga Rp 700 ribu – Rp 1 juta itu dipesan dari dalam dan luar Sleman. Hasil inovasi itu terbukti mampu menghidupkan BUMDes Puri Mataram yang hampir mati suri karena hantaman Covid-19.  “Kegiatan-kegiatan kreatif akan terus kami ciptakan hingga terbentuk kemitraan satu kalurahan satu korporasi atau one village one corporat,” katanya. (*/tim)

Sleman