RADAR JOGJA – Konflik agraria muncul di kawasan Kecamatan Minggir. Tepatnya di Dusun XC Jomboran Sendangagung. Konflik antara warga setempat dengan PT Citra Mataram Konstruksi (CMK) tersebut terkait pertambangan dengan alat berat.

Permasalahan ini telah dimediasi Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO). Sayangnya hasil pertemuan tersebut tak membuahkan hasil. Warga tetap menolak adanya aktivitas pertambangan alat berat di dusun mereka.

“Belum pernah ada sosialisasi dari PT (PT. CMK), tapi ternyata izinnya kok sudah turun. Belum ada pemberitahuan sampai sekarang. Memang belum kena tapi dampak nanti kalau (sungai) banjir pasti menerjang,” jelas warga terdampak Nurokhim ditemui di tanah miliknya, Jumat (25/9).

Pria berusia 46 tahun ini sempat menunjukan lokasi tanahnya. Berada di ujung utara, lahan miliknya berhadapan langsung dengan arus sungai Progo. Aliran sungai yang awalnya melalui sisi barat diubah menjadi sisi timur.

Terlihat adanya saluran selokan diantara jalan pertambangan. Aliran sungai ini menabrak langsung dinding lahan milik Nurokhim. Apabila terjadi banjir maka potensi ancaman abrasi tinggi.

“Arusnya sudah dibelokan sekarang lurus. Jadi mereka mengubah alur sungai. Dulu pernah menambang 2 mingguan tapi diusir warga, tahun ini kejadiannya,” katanya.

Dia berharap penambangan alat berat tak masuk dusunnya. Selain kerusakan alam juga menutup mata pencaharian warga. Nurokhim tak menampik bahwa mata pencaharian warga dusunnya adalah penambang pasir manual.

“Harapan tidak usah nambah di Jomboran. Kalau misal jalan, nanti ada 50 kepala keluarga terdampak. Kami biasanya bertani tapi ini kemarau hanya setahun sekali. Terpaksa ya (menambang) manual di Sungai Progo,” ujarnya.

Warga lainnya Sukardi memiliki pemikiran yang sama. Bahka tebing lahannya telah termakan abrasi arus sungai. Dia berharap agar aksi penambangan pasir dengan alat berat di dusunnya tak berlanjut.

Lebih lanjut dia justru menceritakan adanya konsep wisata. Kawasan bantaran sungai akan diubah menjadi lokasi wisata. Dikemas dengan kearifan lokal yang dimiliki oleh warga sekitar.

“Kami ingin membuat lokasi ini jadi destinasi wisata. Tapi bantaran sungai malah sudah hilang. Ini lahan saya juga kena, tidak ada pemberitahuan,” keluhnya.

Penata Sumber Daya Alam (SDA) BBWSO Muhammad Rusdiyansah meminta warga dan PT CMK menahan diri. Menurutnya pro kontra masalah pertambangan pasti ada. Artinya tidak semua warga menerima dan menolak adanya wacana tersebut.

Terkait keluhan warga, pihaknya masih mendalami. Hanya saja dia memastikan bahwa kegiatan pertambangan di wilayah tersebut sah. Ini karena pihak PT CMK telah merampungkan perijinan. Termasuk rangkaian untuk meraih ijin tersebut.

“PT CMK tak ada sosialiasi kami anggap tidak ada. Kami anggap sah bahkan sudah ditandatangani kepala desa. Hanya perlu tahu kalau ada tambang tidak ada masyarakat yang 100 persen setuju,” katanya. (dwi/tif)

Sleman